Tuesday, May 18, 2021

Mandiri dan Kreatif

 

Kita hendak memulai pengembaraan yang penuh dengan lika liku kehidupan. Tujuan besar kita tidak sekadar hidup tapi menghidupkan, tidak hadir sebagai musibah namun menjadi anugerah. Namun, sebelum berbicara jauh mengenai hal tersebut tentunya poin yang harus kita pahami adalah hakikat menjadi manusia. Dalam Al-Mu’minun : 12-14 Allah menjelaskan wal mulapenciptaan manusia, begitu panjang prosesnya, begitupun kekuatan yang Allah titipkan kita untuk hadir di dunia. Kita adalah pemenang. Perjuangan ratusan juta sel sperma begitu berat untuk bisa memasuki sel telur, harus melawan antibodi, kondisi keasaman yang bahkan bisa membunuh sel sperma tersebut. Yang pada akhirnya hanya satu sel sperma saja yang mampu bertahan dan berhasl memasuki sel telur untuk melakukan pembuahan.dan sel sperma itu adalah kita yang dengan mandiri (atas izin Allah) memenangkan kompetisi dari ratusan juta sel sperma lainnya. Itu mendakan bahwa Allah menciptakan kita dari sebuah perlombaan yang hebat, dan kitalah pemenangnya.

Hadirnya kita di bumi tentunya bukan tanpa alasan, namun kita hadir sebagai anugerah, sebagai khalifah, dan beribadah kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam tulisan, bukan saatnya lagi kita menjadi passanger namun kita saat ini adalah driver yang bersiri di atas kaki sendiri dan siap menebarkan banyak misi kebaikan dan mempertanggungjawabkan semuanya. Buya Hamka memberikan petuah untuk kita yang sudah berada di fase driver bahwa ‘Bebanmu akan berat, jiwamu harus kuat, tetapi aku percaya langkahmu akan jaya, kuatkan pribadimu!’. Amanah yang Allah berikan setelah kita memasuki aqil baligh adalah amanah yang berat, kita harus menguat kan diri dan menikmati prosesnya.

Perjalanan hidup manusia daru satu waktu ke waktu yang lain menunjuka bahwa manusia itu dinamis. Selalu berubah. Dari muda sampai tua. Dari anak kecil sebagai passanger menjadi driver, dari lapang menjadi sempit, dari tiada menjadi ada dan kembai tiada. Tetu saja kita hari ini berbeda dengan kita saat kecil. Meskipun masih di raga yang sama, tetapi perubahan yang tampak dan dapat dirasakan ini adalah sesuatu yang niscaya. Amanah dari Allah untuk kita menjadi khalifah di muka bumi tentunya harus di pupuk dari hal terkecil salah satunya kemandirian. Bagaimana bisa kita memberikan banyak hal pada ummat ketika masalah kemandirian saja kita belum selesai. Bagaimana kita bisa menjadi pengemudi, tujuan, arah peta, bahkan cara mengemudi saja tidak tahu. Karena hal tersebut diperlukanlah tools agar kita bisa sukses menjadi pribadi yang mandiri. Untuk menjalani misi yang Allah amanahkan, melalui buku “The Secret” oleh Ken Blanchard dan Mark Miller terdapat konsep SERVE

S – See the Future ( Melihat Masa Depa)

E – Engage and Develop Others ( Libatkan dan Kembangkan Orang Lain)

R – Reinvent Continoustly ( Temukan Kembali Terus Menerus)

V – Value Results and Relationship (Hargai Hasil dan Hubungan)

E – Embody The Values (Mewujudkan Nilai)

            Pada tahap kemandirian, mentalitas driver serta menjadi khalifah, hurus S bermakna bahwa kita harus bersedia dan sanggup membantu orang lain hingga mencapai tujuannya. Disinilah pentingnya selesai dengan diri sendiri, setiap orang perlu melihat dirinya secara mendalam, kemana hendak melangkah, apa yang akan menuntun perjalanan. Huruf kedua E artinya kita harus mempu menempatkan seseorang di posisi yang tepat untuk melaksanakan tugas tertentu. Membantu memaksimalkan potensi, pikiran, dan hati setiap orang dalam posisinya. Kemudian huruf R disini adalah nilai kreativitas seorang pengemudi yaitu harus menemukan berbagai terobosan maupun gagasan baru, memiliki pemikiran yang kreatif. Lalu, huruf V artinya pandai menghargai hasil maupun hubungan, tidak mudah menyerah, dan percaya bahwa nilai baik yang kita miliki akan menuntun perilaku dan menjamin keberhasilan di depan. Dan yang terakhir adalah E yaitu mewujudkan nilai, kita tidak bleh hanya fasih melafalkan tapi juga harus mempu mengimplementasikan.

            Kita telah memulai pengembaraan menuju depan yang lebih baik dengan penuh keberanian. Kita adalah intelektual penggerak yang menghadapi berbagai perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Transformasi pikiran juga harus terus dilakukan. Kreativitas menjadi hal yang penting untuk mencapai tujuan besar kita yaitu menjadi sebaik-baiknya manusia yang Allah takdirkan menjadi khalifah dan bertugas untuk beribadah serta berdakwah. Sebagaimana Surat Ali Imrah : 110 “Kamu adalah umat teraik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka yang beriman, dan kebanyakanmereka adalah orang-orang fasik” . Berbagai kisah sejarah menggambarkan bahwa pendahulu kita adalah intelektual penggerak yang berdakwah maupun berstrategi dengan cara yang out of the box, dengan cara-cara yang kreatif, sebagaimana Muhammad Al – Fatih dengan strategi menembus benteng pertahanan lawan, sebagaimana Rasulullah dengan ide yang luar biasa menenangkan berbagai kaum. Hal tersebut tentunya memantik kita untuk mendobrak batasan dengan imajinasi yang tinggi dan tentunya tidak hanya menjadi imajinasi kosong, namun bernilai dan bermanfaat.

            Sebagaimana yang dijelaskan dalam tulisan, bahwa kreativitas memiliki berbagai kategori Big-C, Pro-C, Little-C, Mini-C. Dan kita bisa memulainya dengan tahap yang sederhana seperti tahap Mini-C, bisa mengimplementasikan pada kehidupan kita sehari-hari.

            Dalam Guilford kreativitas juga mengacu pada 2 cara berpikir yaitu konvergen dan divergen. Konvergen artinya cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan pandangan bahwa hanya adasatu jawaban yang benar. Sedangkan divergen adalah kemampuan individu yang mencari berbagai alternatif jawaban atas persoalan. Orang yang kreatif adalah orang yang cenderung berpikir dengan cara divergen.

Wallas (dalam Solso, Maclin & Maclin, 2007) bahwa terdapat empat tahapan dalam proses kreatif, yaitu:

a.                Persiapan : memformulasikan suatu masalah dan membuat usaha awal untuk memecahkannya.

b.              Inkubasi : masa di mana tidak ada usaha yang dilakukan secara langsung untuk memecahkan masalah dan perhatian dialihkan sejenak pada hal lainnya,

c.                Iluminasi : memperoleh insight (pemahaman yang mendalam) dari masalah tersebut.

d.              Verifikasi : menguji pemahaman yang telah didapat dan membuat solusi

 

Terdapat kondisi yang bisa meningkatkan kretivitas menurut Hurlock yaitu waktu, kesempatan menyendiri, dorongan, sarana, rangsangan dari lingkungan, hubungan dengan orang tua, cara mendidik anak, dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.

            Pada akhirnya kemandirian maupun kreativitas tidak datang dengan sendirinya, terdapat banyak aspek yang memengaruhi, mulai dari internal maupun eksternal, yang terpenting dalam proses pembentukan itu adalah orientasi kita dalam mencapai titik itu adalah Allah.




In Frame : bareng anak-anak SV yang kreatif dan inovatif

Pelopor Perubahan

 

Berbicara tentang pelopor perubahan sangat erat kaitannya dengan pemuda yang siap menjadi jawaban dari setiap masalah dan tandangan yang ada, namun sebelum jauh kesana ada hak-hak orang-orang disekitar kita yang juga harus dipenuhi untuk kita bantu dan tidak hanya berfokus pada kebaikan diri sendiri tapi juga kebaikan orang lain. Di awal tulisan mengenai bystander effect membuat saya tertampar, jangan-jangan selama ini melakukan hal tersebut tanpa sadar, sehingga membuat orang lain dalam kondisi yang sangat berisiko bahkan berbahaya.

            Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Setiap persendian manusia ada sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya, kamu mendamaikan di antara dua orang adalah sedekah,kamu membantu seseorang untuk menaikkannya di atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat adalah sedekah, dan kamu membuang gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR.al-Bukhari ,no.2989 dan Muslim, no 1009) bahkan membuang gangguan dari jalan, Rasulullah berkata bahwa itu sedekah, lagi-lagi kita diminta untuk lebih peka dan bahkan dijanjikan pahala.

Dari kisah Kitty Genovesse saya belajar, ternyata dunia masih bising dengan gemuruh abai, masihkah kita memilih diam?

              Dalam hal masalah kecil hingga masalah besar yang menimpa kita maupun orang lain sebenarnya kita memahami bahwa selalu ada jarak antara kondisi ideal dengan realita yang ada, istilah singkat yang menggambarkan jarak antara kondisi ideal dan realita disebut masalah. Lalu, kita coba cermati masalah yang lebih luas, dan yang menjadi pertanyaan adalah ini menjadi tanggung jawab siapa? Bisa jadi ini adalah panggilan dari agama maupun bangsa untuk dijawab dengan solusi maupun karya, pemuda menentukan kondisi bangsa, agen perubahan, penggerak peradaban, syubbān alyaum rijāl al-gadd (pemuda hari ini pemimpin hari esok). Cerminan Indonesia 100 tahun kedepan siapa yang buat? Yaitu dengan melihat kondisi pemuda saat ini. Ada bonus demografi pemuda dan usia produktif akan lebih banyak, ini adalah momentum emas, ini akan menjadi musibah atau anugerah? Lagi-lagi ditentukan oleh kita. Hal ini akan menjadi anugerah ketika tidak hanya label usianya saja, tetapi kegiatannya juga produktif. Akan menjadi musibah ketika bermalas-malasan, tidak mau berkarya, tidak peduli dengan apa-apa yang terjadi dikanan dan kiri,

            Bangsa kita jika diibaratkan tubuh, sel terkecil adalah individu2nya, yang menyusun kondisi bangsa, yang menentukan kondisi bangsa, antara sistem organ dan organ, antara organ dan jaringan, antara jaringan dan sel, tentu tidak bisa dipisahkan. Jika hari ini masih ada yang berpikir yang berbuat negative adalah hanya kita, yang tidak produktif hanya kita saja, atau yang tidak baik hanya diri kita sendiri, dan merasa yang rugi hanya kita, jangan salah, ketika kita tidak mulai perubahan baik itu dari dalam diri sendiri, kita yang menganggap bahwa diri kita yang tidak baik tidak berpengaruh pada apapun padahal sangat berpengaruh terhadap keluarga kita, terhadap orang-orang disekitar kita, terhadap bangsa, bahkan mungkin lebih luasnya pada dunia, kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sel terkecil dari tubuh bangsa dan agama kita, baiknya kita buruknya kita akan menentukan banyak hal.

            Dalam tulisan disinggung terkait tiga hal yang harus dilibatkan yaitu akal, hati, dan aksi. Kita percaya bahwa pentingnya membangun karakter dan kapasitas, selain untuk diri kita juga untuk orang lain, Rasul diturunkan untuk membangun karakter dan akhlak, kewajiban kita untuk punya karakter dan akhlak yang baik, sehingga penting bagi kita untuk menerapkan kapasitas itu, selain karna kewajiban, itu juga cara kita untuk survive di era ini, hari ini yang dicari adalah orang yang mempunyai moral dan mempunyai skill, orang yang cerdas IQ, EQ, SQ, itu yang dicari dan dihargai, karena di dunia persaingan yang borderless yang luar biasa ini, kita tidak hanya membutuhkan orang yang pintar pelajaran atau menerapkan akal saja tapi juga punya nilai dalam dirinya juga mempunyai akal yang dituntun iman, nilai yang ditumbuhkan dari karakter yang kita miliki, selanjutnya tinggal bagaimana kita memberikan impact untuk sekitar, sebagai salah satu bentuk dari nilai, akal, dan karakter kita yang tentunya dituntun dengan iman dan niat baik yang tidak hanya sekederdil kebaikan-kebaikan dunia namun juga untuk kehidupan selanjutnya yaitu di alam akhirat

Setelah niat dan akal kita siap, saatnya kita melakukan eksekusi, dalam hal ini saya ingin menyempitkannya menjadi pelopor perubahan melalui kontribusi, yang mana memiliki 3 pilar utama :

1.     Gagasan/Ide

Kita harus mengetahui terkait permasalahan, untuk mendapatkan ide kita harus tahu masalahnya, masalah kita tahu dari kita melihat kondisi ideal dan realita, tidak bisa asal kontribusi tanpa tau ada permasalahan yang jelas tidak bisa kita ingin sesuatu itu berubah kearah yang lebih baik tanpa tahu duduk masalahnya seperti apa, hal yang harus dipertanyakan adalah masalah apa yang akan di jawab oleh movement atau aksi-aksi kita, dan strong why, selalu start with why, tentunya kita tahu bahwa melakukan perubahan baik bagi diri sendiri dan orang lain adalah semata-mata hanay untuk mencari ridho Allah, selain itu juga pasionate, mau , dan dibutuhkan.

2.     Narasi

Tujuannya agar orang-orang mengetahui hal yang ingin kita ubah, kita seperti apa dan mengapa orang-orang pada mau gerak dalam perubahan itu. Dalam membangun narasi ketika why nya tidak kuat maka tidak banyak yang mau tergerak, tentunya untuk menyampaikan yang ada dikepala dan hati yang harus sampai ke hati dan kepala orang lain yang menentukan seberapa cepat pesan itu tersampaikan adalah kemampuan narasi dan komunikasi. Narasi solid memiliki kriteria menyentuh rasio atau menyentuh emosi, untuk menggerakan orang jika tidak menyentuh akal maka sentuh emosinya. Sentuh akal dengan data, fakta logika. Emosi dengan kondisi realitas yang digambarkan sedemikian rupa.

3.     Eksekusi

Jangan berenti di medan pikiran, tapi sampailah di medan kerja, berhasil atau tidak kita melakukan perubahan baik dalam diri sendiri dan orang sekitar kita kearah yang Allah inginkan tidak hanya berbicara tentang hasil tapi juga proses dan jalan yang kita tempuh untuk mencapai hasil, karena sejatinya ketika kita sudah mulai mencoba kita telah menang dan berhasil, menang melawan rasa takut, berhasil mengambil tantangan, berhasil percaya diri, dan berhasil mencoba.

            Seperti hal yang dilakukan oleh Ibu Septi di artikel, untuk melakukan perubahan tentunya tidak akan mudah dan banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari menyusun kembali paradigma diri sendiri, mengajak orang sekitar sampai bisa meluas ke berbagai penjuru, Bu Septi merupakan gambaran orang yang berani melakukan perbedaan baik di luar kewajaran demi menterjemahkan dan membahasakan permasalahan, dengan segala pengorbanan yang di berikan, dengan segala keberanian yang diambil untuk memilih pilihan tersebut diantara pilihan mewah lainnya, Bu Septi memilih untuk menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik dengan caranya sendiri.


In Frame : Aksi Memperingati 20 Tahun Reformasi


Kokoh Mental dan Spiritual

 

Sejarah mengenai penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II memberikan gambaran jelas bahwa untuk melakukan hal yang besar banyak aspek yang harus diperhatikan dan dikuatkan, hal yang harus dipupuk sejak dini salah satunya adalah memiliki mental dan spiritual yang kuat, kokoh, dan membangun resilience. Sebagaimana firman Allah di Al-Ankabut : 2-3, ujian bagi orang beriman akan terus ada, setiap orang akan mengalami lika-liku hidup, tantangan setiap hari, hingga di titik peristiwa traumatis yang memiliki dampak yang lebih tahan lama yang menggoncang mental kita. Setiap perubahan orang secara berbeda akan membanjiri pemikiran yang unik, emosi yang kuat, dan tahan akan ketidakpastian. Namun, manusia terlahir sebagai makhluk hidup yang adaptif, bisa beradaptasi dengan baik dari satu waku ke waktu yang lain, dari situasi satu ke situasi yang lain yang sangat berpengaruh pada hidup, hal tersebut karena kita memiliki resilience. Resilience atau ketahanan sebagai proses beradaptasi dengan baik dalam menghadapi kesulitan, trauma, tragedi, ancaman, maupun sumber stres lain baik itu masalah keluarga, kesehatan yang serius, maupun gangguan dari tempat kerja dan keuangan yang membuat mental kita lemah (American Psychological Association, 2012). Resilience berkaitan dengan ‘bangkit kembali’ dari pengalaman sulit dan memaknai semua adalah proses untuk bertumbuh.

            Terdapat banyak peristiwa maupun kejadian buruk dalam hidup, jika Sultan Mehmed II mendapati kejadian yang membuat mentalnya terguncang adalah kekalahan yang terus menerus, maka mungkin kejadian yang membuat mental kita terguncang adalah hal yang berbeda, namun percayalah bahwa kejadian tersebut tidak menentukan hasil dari hidup kita asal kita tetap memiliki mental yang kokoh. Ada banyak aspek yang dapat kita kendalikan, modifikasi, dan kembangkan. Itulah peran resilience. Memiliki mental yang tangguh tidak hanya membantu kita melewati keadaan sulit, namun juga memberdayakan kita untuk selalu tumbu bahkan meningkatkan kualitas hidup kita di sepanjang perjalanan sampai Allah memanggil kita pulang. Menjadi tangguh tidak berarti bahwa seseorang tidak pernah ataupun tidak akan mengalami kesulitan maupun kesusahan. Orang yang mengalami kesulitan maupun trauma besar dalam hidup yaitu mereka yang mengalami rasa sakit dan stres emosional yang pada akhirya menjadi jalan menuju ketahanan/resilience. Faktor-faktor tersebut membuat beberapa individu lebih tangguh dan memiliki mental yang kokoh dibanding yang lain. Ketahanan melibatkan perilaku, pikiran, dan tindakan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh siapapun. Sama halnya dengan membangun otot, meningkatkan ketahanan dan kekokohan mental kita membutuhkan waktu dan niat. Menurut American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa terdapat empat komponen inti berkaitan dengan memberdayakan diri sendiri untuk bisa meningkatkan kapasitas agar memiliki ketahanan, mulai dari enemukan tujuan, membangun koneksi atau memprioritaskan hubungan dengan orang yang memiiki loyalitas dan empati serta pengertian dapat menjadi supporting kita bertahan dan memiliki mental yang kokoh, serta bersikaplah proaktif. Sebagaimana kisah Muhammad Al-Fatih yang tidak menyerah ketika gagal, namun terus bangkit, menggunakan berbagai strategi demi mencapai mimpinya.

Tidak hanya kokoh mental, akar atau pondasi yang juga penting adalah kokohnya spriritual kita, karena itu adalah akar, yang jika tidak kuat maka semuanya akan runtuh. Terdapat kisah sederhana, ada seseorang yang hidup di desa. Beiu menanam pohon pisang, pepaya, dan bambu. Ketiga pohon yang ditanam ternyata pohon bambu yang paling lama muncul ke permukaan tanah. Tahun ppertama, ptani memerhatikan ternyata pohon bambu belum muncu. Beliau meninggu dan berkata mungkin pada tahun kedua akan muncul. Namu, saat memasuki than kedua ternyata tidak juga muncul. Sampailah ia mengira bahwa bambu sudha mati dan tidak akan tumbuh seperti pohon lain. Dan ternyata, di tahun ketiga barulah ia muncul. Ditahun berikutnya bambu tersebut menjulang tinggi dan tahan saat ada terpaan angin kencang menimpa tubuhnya. Ternyata proses yang lebih lama dibanding yang lain adalah yang dilakukan bambu untuk menancapkan akar sekuat-kuatnya terlebih dahulu baru tumbuh dan muncul ke permukaan. Sehingga lebih kokoh dibanidng yang lain.pelajaran dari kisah sederhana tersebut adalah untuk bisa mencapai tingkatan pencerahan spiritual yang lebih tinggi, kita tidak boleh lupa untuk menancapkan akar dengan kuat. Karena jika ada angin kencang tiba, entah itu sesuatu pemikiran yang ekstrem, atau apapun yang membuat iman kita goyah, kita senantiasa tidak akan terpengaruh dan tidak roboh karenanya. Hal tersebut adalah pentingnya akar-akar aqidah yang kokoh, spiritual yang kuat. Untuk mengakarkan tenunya harus melewati latihan demi latihan dalam batasan syariat yang istiqamah kita kerjakan. Sebagaimana dalam kisah Muhammad Al – Fatih yang ternyata memang sudah dipupuk sejak dini, mulai dari keistiqamahan ibadah, menuntut ilmu dengan sungguhh-sungguh, lingkungan yang baik dan mendukung misinya, dan hawa nafsu yang terjaga. Pada intinya untuk mendapatkan spiritual yang kokoh kita harus meyakinkan bahwa kita memiliki tujuan. Yaitu Allah.


Referensi :

Fletcher, D., Sarkar, M., 2013, Psychological Resilience A Review and Critique of

Definitions,  Concepts, and Theory, European Psychologist, Vol. 18(1):12–23

Marzuqi, Ikhwan, 2017, Spiritual Enlightenment, Jakarta, Gramedia

American Psychological Association, Building Your Resilience, dilihat 1 April 2021, diakses

di : https://www.apa.org/topics/resilience



In Frame : Acara AQU Medika (program Camp bersama Al-Quran)

Menginspirasi atau Menggerakkan?

 

Berbicara mengenai ketokohan sosial sangat erat kaitannya dengan istilah influencer maupun trendsetter. Dua diksi tersebut sudah banyak diperbincangkan terutama ole Gen Z. Tentunya istilah tersebut terutama di era media sosial saat ini erat kaitannya dengan seseorang yang memiliki banyak followers atau diartikan sebagai orang yang memiliki pengaruh kuat bagi followers mereka sebagai contoh adalah selebgram, artis, maupun youtuber. , sedangkan trendsetter yaitu orang yang berada paling depan atau awal menerapkan tren baru yang muncul, lebih erat kaitannya dengan seseorang yang menjadi panutan baik dalam hal berbicara, fashion, content, atau hal yang lebih substansial lainnya yaitu ideologi maupun perilaku dan juga akhlak.

            Banyak alasan mengapa seseorang bisa ditokohkan, dalam buku Start With Why terdapat golden circle bagaimana pemimpin besar seperti Steve Jobs maupun Bill Gates tak hanya menjadi pemimpin namun juga bisa menginspirasi dan mengubah hidup jutaan orang. Sebagaimana yang disinggung dalam tulisan, fenomena selebgram, endorsement, sampai pengaruh serta dampak yang besar dan keuntungan yang menjanjikan tentunya membuat kita bertanya-tanya hal apa yang membuat seseorang bisa ditokohkan, memiliki banyak followers, bahkan sampai gaya hidupnya diikuti. Hal tersebut dibahas oleh Simon Sinek yaitu penulis buku Start With Why bahwa setiap orang memiliki hasrat untuk merasa bagian dari kelompok tertentu sangatlah kuat sehingga setiap orang mau berusaha keras, melakukan hal-hal yang tidak rasional, bahkan sering mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan perasaan itu. Sebagaimana para followers maupun penggemar suatu idol tertentu yang mengikuti gaya hidup dan memercayai hal yang dibagikan oleh idolnya mereka adalah sesuatu yang bisa memenuhi hasrat itu sehingga diikuti bahkan menjadikan idolnya kiblat dalam menjalani kehidupan.

            Golden Circle yang dimaksudkan Simon Sinek adalah berkaitan dengan apa, bagaimana, dan mengapa.





 

Prinsip lingkaran emas ini bukan hanya sekadar urutan komunikasi namun hal ini adalah prinsip yang berakar dari evoluasi perilaku manusia. Daya pertanyaan mengapa bukan hanya terkait dengan pendapat namun terkait biologi.



Area neorokorteks selaras dengan tingkatan APA. Neeorokorteks sendiri bertanggungjawab erkait dengan pemikiran rasional dan analisis serta kemampuan bahasa. Untuk dua bagian tengah yaitu area limbik yang bertanggung jawab atas perasaan, seperti kepercayaan dan kesetiaan, selain itu juga bertanggung jawab atas semua perilaku manusia dan semua perbuatan keputusan kita, namun sayangnya tidak memiliki kemampuan bahasa.

 Dalam ketokohan sosial yang berkaitan dengan tidak hanya menginspirasi namun juga memengaruhi dan menggerakan seseorang tentunya pola komunikasi yang dibangun juga harus sesuai dengan bagaimana otak bekerja. Ketika kita berkomunikasi dari luar ke dalam, yang mana mengkomunikasikan terlebih dahulu APA yang kita lakukan, orang mungkin akan mengerti namun hal tersebut tidak menggerakan perilaku. Namun, ketika kita mencoba komunikasi dari dalam ke luar, maka kita berbicara langsung pada bagian otak yang mengendalikan perbuatan keputusan, dan bagian bahasa dari otak yang memungkinkan kita merasionalisasikan keputusan itu.

            Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk berkomunikasi maupun menginspirasi. Namun, hanya dengan komunikasi dari dalam keluar yaitu dari mengapa -- apa yang akan bisa memengaruhi dan menggerakan. ‘Mengapa’ erat kaitannya dengan tujuan, alasan, keyakinan, kenapa kita ada, dan mengapa orang lain sebaiknya peduli. Orang yang bisa memengaruhi orang lain tentunya memiliki nilai tertentu yang dikomunikasikan baik secara tersirat maupun tersurat yang pada akhirnya bisa menggerakan seseorang. Dalam Islam, hal ini erat kaitannya dengan niat, ‘mengapa’ erat kaitannya dengan niat kita dalam melakukan sesuatu, pepatah mengatakan hal yang dari hati akan sampai ke hati, begitupun dalam memengaruhi dan menggerakan seseorang. Citra diri tidak hanya dibangun dari luar ke dalam, namun yang bisa sustain dalam memengaruhi maupun menggerakan orang lain adalah ketika kita mencoba untuk membangun nilai tersebut dari dalam keluar. Mulai dari menemukan ‘mengapa’ kita atau niat besar kita yang tentunya sudah jelas tertera dalam Al-Qur’an bahwa kita hidup sebagai khalifah dan untuk beribadah kepada Allah, jalan yang kita tempuh bisa berbagai macam, ketokohan sosial yang dampaknya sistemik tentunya menjadi salah satu jalan untuk mencapai niat ataupun visi besar itu. Ketika kita mempunyai power atau kekuatan yang besar di komunitas maupun masyarakat tertentu karena citra kita yang baik, ditokohkan, dan memiliki value, maka hal-hal kebaikan dan dakwah kita akan lebih didengarkan dan hal tersebut memiliki efek sistemik bukan lokal. Sistemik artinya on point dan dampaknya besar kepada banyak orang dalam hal ini pengikut kita.

            Starting point untuk menjadi tokoh tidak harus memiliki privilege, modal terbesarnya adalah ‘mengapa’ atau niat besar kita dalam melakukan hal tersebut maka niscaya keberhasilan akan mengikuti. Sebagai contoh, Samuel Pierpont Langley merupakan tokoh yang sangat luar biasa, beliau memiliki resep kesuksesan, memiliki 50.000 USD, memiliki jabatan di Harvard Smithsonian yaitu lembaga pendidikan dan riset, memiliki SDM yang baik, branding melalui media juga baik karena selalu diikuti New York times dalam prosesnya dalam pembuatan pesawat, namun sayangnya Langley ini gagal dalam membuat pesawat karena tidak memiliki ‘why’ yang kuat, nilai, maupun niat yang kuat yang membuat privilegenya tidak memiliki pengaruh yang besar bagi kesuksesannya, di sisi lain ada juga Wright Brothers tidak memiliki kebeuntungan maupun privilege seperti Langley, 2 saudara ini hanya memiliki niat dan ‘mengapa’ yang kuat, bermodalkan toko sepada milik mereka untuk membiayai mimpi besarnya, bahkan tidak mengeyam pendidikan tinggi seperti Langley, dan tentunya tidak diikuti oelh media massa lainnya, namun di Ohio mereka berhasil menemukan pesawat terbang, dan ternyata letak perbedaanya berasal dari niat atau ‘mengapa’nya, Wright Brothers digerakan oleh suatu alasan, tujuan, keyakinan, mereka percaya bahwa mereka mampu menciptakan mesin terbang maka mereka akan mengubah dunia sehingga pada akhirnya yang ditokohkan dan memiliki citra positif terutama dalam hal pesawat terbang adalah Wright Brothers yang tentunya menggerakan banyark orang untuk terus melakuakn inovasi dalam hal tersebut.

Pada akhirnya starting point yang kadang terabaikan inilah yang membuat keberhasilan itu terjadi, terkait niat, big why, keyakinan, keteladanan, pola komunikasi adalah hal yang harus diperhatikan terutama dalam membangun citra positif dengan niat yang positif  harus dari dalam ke luar agar dampak yang dirasakan oleh orang lain tidak hanya menginspirasi sejenak, namun memengaruhi dan menggerakkan.




In frame : FKG Awards ternyata dapet penghargaan High Social Awareness


Muslim Berkemampuan Spesial

 

Berbicara tentang hidup, berarti erat kaitannya dengan manusia. Makhluk yang Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk, yang memiliki akal juga hawa nafsu, yang menjadi pertanyaan adalah pertarungan hawa nafsu untuk sekedar melakukan banyak hal yang kontraproduktif atau lebih dari sekedar itu, yaitu dengan meloncat dan menyadari bahwa dipundak kita ada label makhluk yang paling sempurna diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, sebagaimana dalam Surah At- Tin ayat 4. Kita diberikan 2 mata untuk melihat, diberikan hidung untuk mencium, 2 telinga untuk mendengar, lisan untuk berbicara, 2 tangan untuk bekerja, 2 kaki untuk berjalan, bahkan diberikan anugerah akal untuk berpikir. Dan yang paling penting untuk disadari adalah bahwa identitas kita adalah sebagai seorang muslim, yang segala perbuatan dan tindakannya sudah tidak hanya berbicara mengenai input untuk diri sendiri namun dengan niat dan itikad yang lebih luas dari itu, yaitu bermanfaat bagi orang lain dan mencari ridho-Nya.

Di era distrupsi ini, sudah bukan saatnya berproses dengan berjalan, namun saatnya berproses dengan berlari dalam roket yang melesat kencang, begitupun dengan menggali potensi diri, saya sepakat bahwa manusia diciptakan menjadi seorang khalifah/pemimpin di dunia bukan tanpa alasan, tentunya setiap manusia memiliki jalan kekhalifahannya masing-masing sesuai dengan potensi masing-masing, dengan cara explore banyak hal, datangi banyak tempat, ajak banyak orang berdiskusi, mencium beribu-ribu bau kehidupan, yang pada akhirnya menemukan titik temu antara what you love, what the world needs, what you are good at, and what you can be paid for atau yang sering kita kenal dengan IKIGAI.

Dalam menemukan potensi tentunya kita harus mengawali dengan start with why , alasan mengapa kita bangun setiap pagi, dan sebenarnya apa hakikat dan tujuan dari hidup kita? Tentunya jika untuk meraih ridho Allah, misi apa saja yang akan kita lakukan, jalan perjuangan mana yang akan kita ambil? Karena seringkali kita terjebak pada realitas, terperangkap pada rutinitas, menjalani hari tanpa antusias, ada manusia-manusia berbakat tapi bingung bangun tanpa semangat, menjalani hari tanpa kesan yang melekat.

Jika direfleksikan terhadap diri saya, saya selalu mengawalinya dengan start with why , untuk memainkan peran sebagai khalifah dan dengan tujuan mendapatkan ridho-Nya, saya menempuh jalan perjuangan di sektor yang sangat saya minat yaitu kesehatan, saya selalu tarik segala sesuatu dari titik akhir, sebagaimana dalam buku 7 Habits Of Highly Effective People Stephen R. Covey membahas tuntas mengenai begin with the end . Sebagaimana membangun rumah, selalu ada dua kali penciptaan, yang pertama adalah sketsa yang dibuat dengan berbagai analisis panjang yang sketsa tersebut selesai bahkan sebelum tanahnya tersentuh, baru kemudian penciptaan fisik. Begitupun dengan saya sebagai manusia yang sedang menjalankan amanah terberat yang bahkan gunungpun menolak untuk menerimanya, saya senang menuliskan lifeplan dari daily, jangka pendek, jangka menengah, bahkan sampai jangka panjang, semata-mata agar bisa tiba sebelum berangkat, sehingga nantinya di perjalanan kita fokus pada hal-hal yang menjadi tujuan akhir kita. Dari kepribadian saya yang senang akan perencanaan yang matang, terstruktur, komitmen pada rencana, antusias yang cukup tinggi, dan memiliki rasa tanggung jawab untuk melaksanakan segala hal yang saya rencanakan diawal saya menemukan bahwa diri saya cenderung striving sebagaimana terdapat dalam teori Talents Mapping oleh Abah Rama.

Tentunya selain start with why saya juga mencoba untuk find my why yaitu menemukan something bigger than my daily activities, the reason behind every single step that I choose, the big picture every activities I do. Saya lagi-lagi memiliki big dream , big reason, dan purpose of my life sehingga jika saya gagal dalam capaian-capaian kecil tidak jatuh semangatnya, karena masih banyak jalan, dan akan panjang sampai ditujuan saya, saya menyukai kompetisi, menyukai hal-hal yang menantang diri saya untuk berkembang jauh lebih baik dan sangat tidak suka jalan ditempat. Dengan find my why, saya yakin kegiatan-kegiatan menyenangkan akan selalu bisa saya ciptakan jika menemukan gambaran besarnya, sebagaimana menyusun puzzle, akan menjadi sangat menarik dan antusias jika kita membayangkan dan menerka gambaran akhirnya. Maka, saya selalu bertekad dengan memiliki gambar akhir, meskipun satu waktu puzzle itu hanya satu warna tanpa gambar dan polos, tapi saya percaya bahwa hal itu juga merupakan bagian dari gambar besar yang akan saya kejar.

Dari gambaran akhir itu saya mencoba meruntutkan kemampuan apa saja yang harus saya miliki dan mengejawantahkannya pada kehidupan sosial saat ini ketika saya menjadi mahasiswa, seperti ketika goals akhir saya adalah menjadi Menteri Kesehatan RI, salah satu kemampuan/softskill dasar yang harus saya miliki adalah berdiplomasi, hubungan interpersonal yang baik, negosiasi dan lobbying, komunikasi, analisis, strategic, empati, memiliki relasi yang baik, memiliki pikiran yang kritis, good in public speaking, bisa berpikir logis, mengerti politik dan kebijakan, memiliki kemampuan dengan pendekatan system, saya coba asah potensi-potensi tersebut yang asalnya mungkin saya tidak tahu apakah ada potensi tersebut dalam diri sendiri atau tidak, dengan mengikuti berbagai organisasi intra kampus, diamanahi menjadi kepala departemen human research development, mengikuti kegiatan ekstra kampus sebagai wadah ideologisasi dan pemahaman politik yang dipandang secara islam, aktif sebagai anggota partai mahasiswa untuk wadah memahami isu dan politik dan membangun relasi, menjadi steering committee diberbagai acara untuk membuat konsep dan strategi acara yang menarik, beberapa kali bergelut di bidang public relation  sehingga berhubungan langsung dengan politisi junior maupun senior serta praktisi dibidang politik, selain itu juga pendekatan grassroot dengan menjadi dental health educator di lebih dari 5 acara untuk mengetahui kondisi realitas kesehatan di masyarakat, diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan dan seminar maupun latihan kepemimpinan, merintis penelitian pada mahasiswa kesehatan serta tenaga kesehatan untuk mengetahui realitas yang terjadi dilapangan terutama mengenai gigi dan mulut, menjuarai berbagai lomba di bidang kesehatan gigi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat sebagai bentuk pengejawantahan ilmu yang diemban menjadi suatu karya yang bermanfaat dan wadah berlomba-lomba dalam kebaikan, semua hal tersebut menjadi wadah bagi saya untuk menantang dan mengeksplor potensi yang saya miliki dan mengukur sudah seberapa hebat, serta untuk mengetahui kelemahan saya terkait potensi-potensi tersebut yang nantinya jika masih banyak kekurangan akan terus menerus ditingkatkan, serta eksplorasi tersebut merupakan sebuah upaya connecting the dots.

Sehingga, jika dikaitkan dengan teori multiple intelligence saya mendapati bahwa kecerdasan saya dibidang interpersonal, verbal-linguistik, serta logical mathematical, yang tentunya masih sangat harus ditingkatkan.

            Memaksimalkan waktu dengan hal-hal yang produktif dan upaya mengeksplorasi kemampuan dan potensi merupakan hal mendasar yang harus dilakukan sampai pada titik dimana saya menemukan potensi-potensi yang bisa terus saya tingkatkan dan tidak cepat berpuas diri atas segala pencapaian.

Pada akhirnya, saya juga berangkat dari keresahan diri mengenai berbagai permasalahan di bumi pertiwi, saya ingin berkontribusi aktif untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut di bidang yang saya minati, dibidang sesuai disiplin ilmu saya, yaitu kesehatan. Sebagaimana yang dikatakan Jalaluddin Rumi “Kemarin saya pintar, jadi saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, jadi saya mengubah diri saya sendiri” dari perkataan tersebut, saya menyadari untuk mengubah hal besar, diawali dari hal kecil, sebelum mengubah dunia, kita mengubah diri sendiri terlebih dahulu dan memantaskan diri untuk bisa berkontribusi lebih besar dengan memanfaatkan moment-moment menjadi mahasiswa dengan kontribusi yang sebaik-baiknya, yang juga menjadi jalan untuk bisa mengenal potensi diri.

Sehingga saya cukup banyak tertampar dengan segala permasalahan, dimana ada jarak antara kondisi ideal dengan realita yang ada, atau sering kita kenal dengan masalah, Kadang, saya bertanya-tanya ini tanggung jawab siapa? Setelah berkontemplasi pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa bisa jadi ini adalah panggilan Indonesia untuk dijawab dengan  dengan potensi-potensi pada diri kita yang kita manfaatkan dengan sebaik mungkin hingga menghadirkan solusi, karya nyata, kontribusi. Pemuda menentukan kondisi bangsa, penggerak peradaban, syubbān alyaum rijāl al-gadd (pemuda hari ini pemimpin hari esok). Maka dari itu bidang yang ingin sekali saya tekuni hingga menjadi ahli adalah di sector kebijakan pada bidang kesehatan, dengan pendekatan sistemik karena saat ini saya merasa kebijakan-kebijakan kesehatan tersebut dengan kesadaran akan citra sosial dan perbaikan segera yang hanya menggunakan plester sosial dan aspirin yang mengobati masalah akut dan bahkan kadang tampak menyembuhkan untuk sementara waktu, tetapi ternyata meninggalkan masalah kronis yang mendasar bahkan tidak tersentuh yang pada akhirnya membusuk, muncul kembali ke permukaan, bahkan meledak di waktu tertentu yaitu disaat krisis, terlihat bobroknya transparansi, fasilitas layanan kesehatan, bahkan ketidakmerataan banyak hal di sector kesehatan.

Dengan segala potensi yang saya miliki yang masih akan terus saya tingkatkan dan dengan antusias akan saya tekuni, saya bertekad untuk bisa memberikan sumbangsih banyak di sektor kesehatan, kebijakan dan kesehatan masyarakat.


in frame : Dental Health Education di salah satu TK di Jogja


Muslim Berwawasan Global

 

Berbicara tentang manusia memang tidak luput dari berbicara mengenai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Makhluk yang di anugerahi akal ini tentu di harapkan berguna untuk membangun umat dan tujuan-tujuan mulia lainnya. Dalam buku The Death of Expertise oleh Tom Nichols, fenomena pada era social media membuat manusia tidak bisa dipisahkan, termasuk segala kemudahan akses informasi/pengetahuan juga termasuk akses ilmu-ilmu pengetahuan yang sangat tak terbatas tanpa tahu apakah informasi tersebut itu ditulis oleh orang yang pakar atau tidak dalam bidangnya, saat ini bahkan kita mengalami ancaman kebudayaan, era internet yang aksesnya sangat luas membebaskan kita untuk mendapat akses ilmu yang luas pula, ini menjadi wadah yang mendukung sekaligus ujian serta tantangan kepada kita sebagai Generasi M (Muslim, Millenials) untuk pintar dalam menyeleksi yang pada dasarnya kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk merupakan kerja dari akal yang sudah Allah anugerahkan kepada kita.

Dalam konteks yang lebih jauh, perintah Iqra yang juga tertuang dalam Al-Quran mengindikasikan bahwa adanya dorongan dari Allah kepada manusia untuk berpengetahuan dalam hal ini berwasasan. Hal ini tentu dimaksudkan agar adanya perubahan pada manusia, dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dengan pengetahuan maka bisa berbuat, bahkan dengan berbuat maka dapat beramal bagi kemaslahatan umat dan tujuan mulia lainnya.

Dengan anugerah akal yang bisa digunakan untuk berpikir yang menurut Sutan Takdir Alisjahbana merupakan fondasi dan kemampuan adalah pendorongnya, berpikir tentunya juga dengan kemampuan itu manusia bisa mengolah pengetahuan sehingga pemikiran-pemikiran manusia menjadi mendalam dengan selalu menggali makna, dengan pengetahuan yang mendalam hingga bisa mengajarkan manusia, dengan berpikir bahkan manusia bisa mengembangkannya, yang pada akhirnya mengamalkan dan mengaplikasikan untuk melakukan perubahan dan peningkatan taraf kehidupan yang lebih baik, juga bisa menjadi jalan untuk di angkat derajatnya karena berilmu, bahkan dipermudah jalan menuju Surga. Dengan akal dan kemampuan berpikir itulah kemudian Allah wajibkan untuk menuntut ilmu agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan. Jika ilmu adalah cahaya maka akan menuntun manusia hingga mencapai tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri yang menurut islam yaitu menjadi Khalifah dan beribadah kepada Allah. Bahkan menurut hadist riwayat Ibnu Majah bahwa menuntut Ilmu wajib atas setiap muslim (baik muslimin maupun muslimah) . Allah pun menjanjikan banyak keutamaan bagi orang yang berilmu, dari dimudahkan jalan menuju Surga (H.R Muslim) karena dengan berilmu maka setiap muslim akan dapat beribadah dengan benar sesuai dasar hukum Islam, tidak hanya bermanfaat bagi duniawi saja namun juga akhirat, selanjutnya juga Allah menjanjikan pahala yang mengalir bagi orang yang berilmu sebagaimana Hadist Riwayat Muslim “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shaleh atau shalehah.” Ilmu yang mengandung kebaikan yang d ajarkan oleh seseorang maka akan memberikan pahala yang mengalir meskipun orang yang mengajarkannya sudah meninggal, selain itu dalam Q.S Fathir : 28, juga di janjikan di angkat derajatnya sebagaimana dalam Q.S Al-Mujadilah ayat 58, bahkan Allah beri juga kebaikan dan karunia sebagaimana di dalam Hadist Bukhari Muslim.

Sebagaimana di sebutkan dalam tulisan menurut Ibn Taimiyyah mengenai hierarki ilmu atau pembagian umum yang sering kita kenal mengenai ilmu agama dan ilmu dunia, ilmu agama yang menjadi prioritas karena merupakan bekal bagi kita untuk hidup di dunia ini, tempat untuk mencari sebanyak-banyaknya bekal dengan ilmu yang syuml

Ustadz Abdul Somad menyebutkan bahwa untuk menjadi cendekiawan muslim berwawasan global, tahapannya dari mulai dari membaca, riset, berpikir kritis, lalu  problem solving. Sehingga untuk mencapai di titik berwawasan global starting point yang bisa kita lakukan adalah memulai dari membaca sebagai mana dalam Surat Al-Alaq untuk Iqra, sedangkan dalam hal berpikir bahkan ada satu neraka khusus untuk orang yang tidak mau berpikir sebagaimana dalam Surat Al-Mulk ayat 10. Maka dari itu akal yang sudah di berikan kepada manusia bukan tanpa alasan namun menjadi anugerah untuk mendapatkan keridhoan-Nya melalu jalan-jalan kebaikan.

 


in frame : w/ my partner in crime Lomba di UNSRI Palembang


Da'i yang Produktif

Berbicara tentang pujian, memang tidak dapat dipungkiri hampir sebagian besar manusia menyukai pujian adalah manusiawi kita senang akan pujian, sesuai dengan teori yang di sampaikan oleh Profesor Norihiro Sadato dari National Institute For Physiological Science dari Jepang yang terdapat dalam tulisan yang berkaitan dengan hormon pada manusia yang nantinya berpengaruh terhadap keseimbangan jiwa seseorang, namun hal ini bukan untuk menjadi acuan atau landasan bulat kita dalam menanggapi pujian atau bukan juga untuk selalu di-amin-kan tapi menjadi refleksi diri dan lebih hati-hati, karena pujian berkaitan dengan peran hati, respon hati yang bahagia, hati yang senang atas apresiasi yang orang lain katakan, namun jika kita terlena dengan semua pujian bisa jadi akan berpotensi pada penyakit hati atau bahkan syirik yaitu riya (pamer). Dalam muslim.or.id oleh dr.Andika menyebutkan bahwa riya’ adalah melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Termasuk ke dalam riya’ yaitu sum’ah, yakni melakukan suatu amalan agar orang lain mendengar apa yang kita lakukan, sehinga pujian dan ketenaran pun datang tenar. Riya’ dan semua derivatnya merupakan perbuatan dosa dan merupakan sifat orang-orang munafik. Hal ini erat kaitannya dengan Da’I atau orang yang berdakwah menyerukan agama Allah, jangan sampai hal-hal yang kita sampaikan akan terhapus dan berterbangan tanpa sisa karena terhapus riya atas semua ayat-ayat kalamullah yang kita sampaikan, maka dari itu sebelum semuanya terlambat pentignya selalu memperbaiki niat “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907] niat tidak hanya di awal saja, namun juga di tengah, dan sampai akhir harus terus diluruskan niatnya. Menjadi Da’I memang tidak mudah, kita tidak hanya dihadapkan dengan bagaimana menyampaikan kebaikan pada manusia saja namun juga pertanggungjwaban atas apa yang kita serukan kepada manusia, yang nantiya jika itu baik maka pahala jariyah mengalir kepada kita, namun jika yang di sampaikan salah dan diikuti oleh objek Da’I maka dosanyapun akan mengalir pada yang menyampaikan. Itulah pentingnya Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah. Ilmu qobla amal.

 

Berbicara tentang Da’I yang produktif dalam pemahaman saya saat ini Dakwah/ menyerukan pada kebaikan tidak hanya di batasi oleh dinding-dinding masjid atau mushola, karena pada faktanya objek-objek dakwah kita adalah orang-orang yang diluar masjid, fenomena kajian LDF yang sudah dirancang sedemikian rupa di masjid namun sayangnya yang hadir hanya anggota LDF itu sendiri atau orang-orang yang sudah shalih, yang menjadi pertanyaan besar adalah sebenarnya siapa target dakwah kita?

Jika kita kilas balik sejarah, metode-metode dakwah Rasul, dakwah di zaman Nabi terdahulu, juga di zaman Khalifah sudah banyak di contohkan metode-metode yang disesuaikan dengan zamannya, begitupun kilas balik pada saat dakwah walisono, berbagai metode dilakukan agar agama Allah tersampaikan dengan metode yang juga sesuai zaman.

Jika kita kembali pada masa ini, dimana orang-orang menyebutnya millenials. Istilah generasi millennial sedang akrab terdengar. Istilah ini berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Dengan segala minat pada teknologi dan digitalisasi hal ini kemudian menjadi sarana yang tepat untuk bisa menyisipkan dakwah dengan metode yang inovatif dan unik, dengan melalui sosial media, podcast, video inspiratif, aau segala hal yang bisa dalam bentuk audio visual dan di luncurkan pada setiap media sosial yang saat ini menduduki tingkatan tertinggi dalam hal penggunaan adalah youtube dan instagram, ini juga merupakan salah satu strategi untuk bisa menimbun konten-konten negatif menjadi konten-konten dakwah yang inklusif, dikemas dengan menarik dan membahas hal-hal yang sedang hangat namun dengan isi mensyiarkan nilai-nilai islam, metode-metode inilah yang sebaiknya di analisis bagaimana minat orang di zaman ini, bagaimana membungkus dakwah dengan kemasan yang menarik untuk bisa menraik perhatian objek agar bisa masuk dan menerima isinya, karena untuk menjadi Da’I yang produktif kita tidak hanya dituntuk untuk berdakwah di atas mimbar-mimbar masjid, namun juga di jalan saat aksi, di sekretariat BEM/kelompok Studi, di ruang-ruang diskusi praktikum/kelas, di media sosial, di tempat mein skateboard, tempat nongkrong, kafe-kafe, tempat ngopi, terutama di media sosial yang sat ini sudah tidak bisa terlepas dari masing-masing orang. Sehingga menjadi Da’i produktif kita tidak hanya menyoal tentang substansi apa saja yang ingin kita sampaikan, tetapi juga pada metode apa yang tepat, sasaran mana yang seharusnya diutamakan, dan kemasan apa yang harsu kita tampilkan, agar dakwah tidak hanya sebatas pada manusia-manusia yang sudah shalih, tapi meluas seperti epidemi penyakit menular, da’I yang produktif juga harus mempu menebakan epidemi dakwah millenial yang efeknya tidak hanya untuk segelintir orang shalih naumun juga segala penjuru dan segala warna manusia.