Kita hendak memulai
pengembaraan yang penuh dengan lika liku kehidupan. Tujuan besar kita tidak
sekadar hidup tapi menghidupkan, tidak hadir sebagai musibah namun menjadi
anugerah. Namun, sebelum berbicara jauh mengenai hal tersebut tentunya poin
yang harus kita pahami adalah hakikat menjadi manusia. Dalam Al-Mu’minun :
12-14 Allah menjelaskan wal mulapenciptaan manusia, begitu panjang prosesnya,
begitupun kekuatan yang Allah titipkan kita untuk hadir di dunia. Kita adalah
pemenang. Perjuangan ratusan juta sel sperma begitu berat untuk bisa memasuki
sel telur, harus melawan antibodi, kondisi keasaman yang bahkan bisa membunuh
sel sperma tersebut. Yang pada akhirnya hanya satu sel sperma saja yang mampu
bertahan dan berhasl memasuki sel telur untuk melakukan pembuahan.dan sel
sperma itu adalah kita yang dengan mandiri (atas izin Allah) memenangkan
kompetisi dari ratusan juta sel sperma lainnya. Itu mendakan bahwa Allah
menciptakan kita dari sebuah perlombaan yang hebat, dan kitalah pemenangnya.
Hadirnya kita di bumi tentunya
bukan tanpa alasan, namun kita hadir sebagai anugerah, sebagai khalifah, dan
beribadah kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam tulisan, bukan saatnya
lagi kita menjadi passanger namun kita saat ini adalah driver
yang bersiri di atas kaki sendiri dan siap menebarkan banyak misi kebaikan dan
mempertanggungjawabkan semuanya. Buya Hamka memberikan petuah untuk kita yang
sudah berada di fase driver bahwa ‘Bebanmu akan berat, jiwamu harus
kuat, tetapi aku percaya langkahmu akan jaya, kuatkan pribadimu!’. Amanah yang
Allah berikan setelah kita memasuki aqil baligh adalah amanah yang berat,
kita harus menguat kan diri dan menikmati prosesnya.
Perjalanan hidup manusia daru
satu waktu ke waktu yang lain menunjuka bahwa manusia itu dinamis. Selalu
berubah. Dari muda sampai tua. Dari anak kecil sebagai passanger menjadi
driver, dari lapang menjadi sempit, dari tiada menjadi ada dan kembai
tiada. Tetu saja kita hari ini berbeda dengan kita saat kecil. Meskipun masih
di raga yang sama, tetapi perubahan yang tampak dan dapat dirasakan ini adalah
sesuatu yang niscaya. Amanah dari Allah untuk kita menjadi khalifah di muka
bumi tentunya harus di pupuk dari hal terkecil salah satunya kemandirian.
Bagaimana bisa kita memberikan banyak hal pada ummat ketika masalah kemandirian
saja kita belum selesai. Bagaimana kita bisa menjadi pengemudi, tujuan, arah
peta, bahkan cara mengemudi saja tidak tahu. Karena hal tersebut diperlukanlah tools
agar kita bisa sukses menjadi pribadi yang mandiri. Untuk menjalani misi yang
Allah amanahkan, melalui buku “The Secret” oleh Ken Blanchard dan Mark Miller
terdapat konsep SERVE
S – See the Future ( Melihat Masa Depa)
E – Engage and Develop Others ( Libatkan dan
Kembangkan Orang Lain)
R – Reinvent Continoustly ( Temukan Kembali Terus
Menerus)
V – Value Results and Relationship (Hargai Hasil dan
Hubungan)
E – Embody The Values (Mewujudkan Nilai)
Pada
tahap kemandirian, mentalitas driver serta menjadi khalifah, hurus S
bermakna bahwa kita harus bersedia dan sanggup membantu orang lain hingga
mencapai tujuannya. Disinilah pentingnya selesai dengan diri sendiri, setiap
orang perlu melihat dirinya secara mendalam, kemana hendak melangkah, apa yang
akan menuntun perjalanan. Huruf kedua E artinya kita harus mempu menempatkan
seseorang di posisi yang tepat untuk melaksanakan tugas tertentu. Membantu
memaksimalkan potensi, pikiran, dan hati setiap orang dalam posisinya. Kemudian
huruf R disini adalah nilai kreativitas seorang pengemudi yaitu harus menemukan
berbagai terobosan maupun gagasan baru, memiliki pemikiran yang kreatif. Lalu,
huruf V artinya pandai menghargai hasil maupun hubungan, tidak mudah menyerah,
dan percaya bahwa nilai baik yang kita miliki akan menuntun perilaku dan
menjamin keberhasilan di depan. Dan yang terakhir adalah E yaitu mewujudkan
nilai, kita tidak bleh hanya fasih melafalkan tapi juga harus mempu
mengimplementasikan.
Kita
telah memulai pengembaraan menuju depan yang lebih baik dengan penuh
keberanian. Kita adalah intelektual penggerak yang menghadapi berbagai
perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Transformasi
pikiran juga harus terus dilakukan. Kreativitas menjadi hal yang penting untuk
mencapai tujuan besar kita yaitu menjadi sebaik-baiknya manusia yang Allah
takdirkan menjadi khalifah dan bertugas untuk beribadah serta berdakwah. Sebagaimana
Surat Ali Imrah : 110 “Kamu adalah umat teraik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan
beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik
bagi mereka, di antara mereka yang beriman, dan kebanyakanmereka adalah
orang-orang fasik” . Berbagai kisah sejarah menggambarkan bahwa pendahulu
kita adalah intelektual penggerak yang berdakwah maupun berstrategi dengan cara
yang out of the box, dengan cara-cara yang kreatif, sebagaimana Muhammad
Al – Fatih dengan strategi menembus benteng pertahanan lawan, sebagaimana
Rasulullah dengan ide yang luar biasa menenangkan berbagai kaum. Hal tersebut
tentunya memantik kita untuk mendobrak batasan dengan imajinasi yang tinggi dan
tentunya tidak hanya menjadi imajinasi kosong, namun bernilai dan bermanfaat.
Sebagaimana
yang dijelaskan dalam tulisan, bahwa kreativitas memiliki berbagai kategori
Big-C, Pro-C, Little-C, Mini-C. Dan kita bisa memulainya dengan tahap yang
sederhana seperti tahap Mini-C, bisa mengimplementasikan pada kehidupan kita
sehari-hari.
Dalam
Guilford kreativitas juga mengacu pada 2 cara berpikir yaitu konvergen dan
divergen. Konvergen artinya cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan
pandangan bahwa hanya adasatu jawaban yang benar. Sedangkan divergen adalah
kemampuan individu yang mencari berbagai alternatif jawaban atas persoalan.
Orang yang kreatif adalah orang yang cenderung berpikir dengan cara divergen.
Wallas (dalam Solso, Maclin
& Maclin, 2007) bahwa terdapat empat tahapan dalam proses kreatif, yaitu:
a.
Persiapan : memformulasikan
suatu masalah dan membuat usaha awal untuk memecahkannya.
b.
Inkubasi :
masa di mana tidak ada usaha yang dilakukan secara langsung untuk memecahkan
masalah dan perhatian dialihkan sejenak pada hal lainnya,
c.
Iluminasi :
memperoleh insight (pemahaman yang
mendalam) dari masalah tersebut.
d.
Verifikasi :
menguji pemahaman yang telah didapat dan membuat solusi
Terdapat kondisi yang bisa
meningkatkan kretivitas menurut Hurlock yaitu waktu, kesempatan menyendiri, dorongan,
sarana, rangsangan dari lingkungan, hubungan dengan orang tua, cara mendidik
anak, dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.
Pada
akhirnya kemandirian maupun kreativitas tidak datang dengan sendirinya,
terdapat banyak aspek yang memengaruhi, mulai dari internal maupun eksternal,
yang terpenting dalam proses pembentukan itu adalah orientasi kita dalam
mencapai titik itu adalah Allah.













