Thursday, December 28, 2017

Menyikapi Pendirian Bioskop Dee Cinema di Cianjur


Saat saya baru pulang dari perantauan (read: Jogja) ternyata kampung halaman sedang di sibukkan dengan pro-kontra pengadaan Bioskop Dee Cinema di Cianjur tepatnya di Ciloto, dari beberapa informasi yang saya dapatkan lalu kemudian saya tabayunkan dan mencoba saya kritisi ternyata memang antusiasme dari warga Cianjur terutama kaum muda itu sangat tinggi bukti survei di sosial media yaitu instagram oleh akun @infocianjur lebih dari 50% warga Cianjur yang mewakili setuju akan pendirian bioskop ini, namun sangat disayangkan kaum muda Cianjur tidak kemudian mempertimbangkan serta mengkritisi seberapa banyak kebermanfaatan dan ketidakbermanfaatan yang ada setelah bioskop tersedbut didirikan. Apakah kebermanfaatannya lebih banyak dari ketidakbermanfaatan atau malah sebaliknya?
Lalu kemudian beberapa waktu yang lalu terjadi aksi menyuarakan ketidaksetujuan pendirian bioskop serta dzikir bersama menolak pengadaan bioskop tersebut yang di inisiasi oleh alim ulama atau MUI Cipanas dan kemudian terjadi lagi pro-kontra, dari beberapa komentar yang saya baca di salah satu postingan instagram @visitcianjur beberapa komentar negatif berserakan tanpa mempertimbangkan efek negatif dari komentar tersebut tanpa dibekali pemahaman yang akurat atas pengambilan sikap para warganet Cianjur terutama kaum muda yang seolah-oleh menganggap Cianjur adalah kota yang fobia perkembangan zaman, yang seolah-oleh menyebutkan bahwa Cianjur terlalu kolot dan aksi yang di adakan itu tidak ada kebermanfaatan, bahkan ada yang mengatakan “Kenapa tidak lewat jalur diskusi?” atau ada juga yang mengatakan “Kenapa saat sudah berdiri, baru disikapi?” Nah, ini adalah contoh komentar yang tidak di bekali data yang akurat, bahkan dari informasi yang saya dapatkan dari akun youtube @infocianjur tentang percakapan mediasi Wakil Bupati Cianjur, Polres, MUI Cipanas, dan pihak Dee Cinema menyebutkan bahwa aksi tersebut adalah ambil sikap yang terakhir ketika secara lisan tidak di dengar, saat secara tulisan di abaikan. Saya rasa bentuk komentar yang di sebutkan tanpa ada data yang jelas adalah caurisme.
 Saya mentabayunkan dari perkataan-perkataan para Alim Ulama Cipanas atau MUI Cipanas dalam mediasi tersebut bahwa ternyata memang pada faktanya tempat pendirian Bioskop Dee Cinema itu jaraknya dekat dengan Masjid, jika kita ambil positifnya mungkin para pengunjung bisa dengan mudah shalat berjamaah di masjid tapi jika di lihat dari sisi negatifnya saya melihat MUI Cipanas itu resah artinya khawatir bahwa kebiasaan shalat berjamaah itu jadi seolah-olah terkikis karena ada tempat yang terlihat lebih menarik untuk di kunjungi, dan pada faktanya jadwal bioskop sering kali bertabrakan dengan waktu shalat.
Lalu saya juga melihat keresahan dari MUI Cipanas bahwa mereka begitupun saya khawatir icon kota Cianjur yang ‘katanya’ kota Santri semakin tidak mencerminkan kota Santri tersebut karena pada faktanya kebanyakan pengunjung bioskop adalah kaum muda yang dikhawatirkan budaya berpacaran atau berkhalwat atau bahkan maksiat semakin mengakar di kota Santri ini. Apalagi kita tahu bahwa salah satu visi/misi wakil bupati cianjur adalah menjadikan Cianjur lebih Agamis, apakah perizinan bioskop ini merupakan hal yang bijaksana? Mungkin bisa dikritisi lagi.
Kemudian keresahan yang saya tangkap dan juga saya khawatirkan adalah, ketika jam setelah ashar atau setelah maghrib yang biasanya waktu untuk mengaji jadi berganti menjadi mengunjungi tempat hiburan tersebut.
Saya paham semuanya tergantung masing-masing orang dan bijaksana dalam bersikap tapi fakta di lapangan berkata lain. Nah, untuk menghindari hal tersebut maka dari itu mengapa MUI Cipanas menginisiasikan hal tersebut karena mereka khawatir akan warga Cianjur terutama kaum muda.
Kemudian, saya juga ingin menyampaikan bahwa bukti konkret sudah jelas bahwa sebenarnya MUI Cipanas mengambil sikap itu tidak hanya saat setelah bioskop tersebut berdiri tetapi sejak sebelum perizinan, kemudian saat pembangunan, dan pada akhirnya bioskop itu berdiri. Mungkin temen-temen bisa lihat di akun youtube info cianjur tentang “Alasan Mengapa Bioskop Dee Cinema di Tutup ?”
Dan mungkin saran saya untuk pihak yang berwenang di Cianjur terutama Bupati Cianjur yang berwenang untuk memberi perizinan, untuk kemudian di kaji ulang dan di kritisi kebermanfaatan dan ketidakbermanfaatan pengadaan bioskop tersebut terutama yang efeknya langsung untuk warga Cianjur. Hatur Nuhun.

Tulisan ini tidak mengurangi rasa hormat saya kepada semua pihak yang saya libatkan dalam tulisan ini. Saya berusaha menyuarakan hal yang memang berangkat dari keresahan saya sendiri akan adanya hal tersebut di dukung dengan data-data yang akurat yang sudah saya tabayunkan.