“Saya meminta kekuatan dan Allah
memberi saya kesulitan untuk membuat saya kuat”
-Salahudin Al Ayyubi
After event Rumah Kepemimpinan yang bertema “Salahudin
Wanna Be” dimana pengisinya ada Ustad
Deden dan Mba Zahra dan Mas Fahmi (Pasangan Hafidz Hafidzah), ketika mendengar
serta mencermati setiap jejak hidup Salahudin yang bermodalkan banyak hal sejak
kecil rasa-rasanya ada sedikit penyesalan dan kekecewaan yang cukup mendalam
pada diri jika mengilas balik masa-masa muda yang terlalu banyak di pakai untuk
kesenangan sesaat, tapi biarlah penyesalan ini menjadi cambukan keras agar bisa
berproses dan memperbaiki diri. Jikalaupun
mengambil ulang keputusan yang pernah kita buat dan memperjuangkan lebih kuat untuk
hal-hal yang kita inginkan, apakah semuanya akan menjadi lebih baik, sedangkan
kita tidak benar-benar tahu yang terbaik, bukankah kekecewaan itu lahir dari
berandai-andai, dari ukuran kita yang keliru tentang rasa syukur.
“Pahlawan tidak lahir begitu saja atau
datang secara tiba-tiba, pahlawan butuh di tempa, juga proses yang lama.” Begitu
kata Ustad Deden ditambahkan pula Salahudin yang memang sejak kecil berada
dilingkungan orang-orang hebat yang pada akhirnya menjadikan beliau hebat pula.
Pendidikan pertama Salahudin adalah Al-Qur’an yang memang harus menjadi sebuah
pondasi dalam kerangka berpikir dan itu adalah modal terbesar untuk kemudian
menapaki pendidikan/ilmu yang lainnya. Al-Qur’an adalah adalah dasar terbaik
yang akan membuat pemikiran hal lain akan berasas Al-Qur’an, ketika kita
didasari ilmu pengetahuan terlebih dahulu baru Al-Qur’an maka pada akhirnya
akan menyalahkan Al-Qur’an dengan logika. Lalu, timbulah pertanyaan bagaimana
dengan aku dengan segala latar belakangku? Tidak ada yang salah, yang harus
dilakukan sekarang adalah mengejar segala ketertinggalan. Meskipun sulit, bukan
hal yang tidak mungkin jika mempelajari Al-Qur’an sembari tetap belajar ilmu
pengetahuan, karena dua-duanya adalah kebaikan yang tidak boleh di benturkan.
Terkadang terlintas pertanyaan
terbesar dalam diri, mengapa banyak orang yang pintar namun cenderung merusak? Mungkin
salah satu factornya adalah pendidikan pertama yang salah. Ini bukan soal orang
lain, tapi juga refleksi atas diri ini.










