Monday, May 21, 2018

Menyepi Untuk Refleksi


“Saya meminta kekuatan dan Allah memberi saya kesulitan untuk membuat saya kuat”
-Salahudin Al Ayyubi

After event Rumah Kepemimpinan yang bertema “Salahudin Wanna Be”  dimana pengisinya ada Ustad Deden dan Mba Zahra dan Mas Fahmi (Pasangan Hafidz Hafidzah), ketika mendengar serta mencermati setiap jejak hidup Salahudin yang bermodalkan banyak hal sejak kecil rasa-rasanya ada sedikit penyesalan dan kekecewaan yang cukup mendalam pada diri jika mengilas balik masa-masa muda yang terlalu banyak di pakai untuk kesenangan sesaat, tapi biarlah penyesalan ini menjadi cambukan keras agar bisa berproses dan memperbaiki diri. Jikalaupun mengambil ulang keputusan yang pernah kita buat dan memperjuangkan lebih kuat untuk hal-hal yang kita inginkan, apakah semuanya akan menjadi lebih baik, sedangkan kita tidak benar-benar tahu yang terbaik, bukankah kekecewaan itu lahir dari berandai-andai, dari ukuran kita yang keliru tentang rasa syukur.
“Pahlawan tidak lahir begitu saja atau datang secara tiba-tiba, pahlawan butuh di tempa, juga proses yang lama.” Begitu kata Ustad Deden ditambahkan pula Salahudin yang memang sejak kecil berada dilingkungan orang-orang hebat yang pada akhirnya menjadikan beliau hebat pula. Pendidikan pertama Salahudin adalah Al-Qur’an yang memang harus menjadi sebuah pondasi dalam kerangka berpikir dan itu adalah modal terbesar untuk kemudian menapaki pendidikan/ilmu yang lainnya. Al-Qur’an adalah adalah dasar terbaik yang akan membuat pemikiran hal lain akan berasas Al-Qur’an, ketika kita didasari ilmu pengetahuan terlebih dahulu baru Al-Qur’an maka pada akhirnya akan menyalahkan Al-Qur’an dengan logika. Lalu, timbulah pertanyaan bagaimana dengan aku dengan segala latar belakangku? Tidak ada yang salah, yang harus dilakukan sekarang adalah mengejar segala ketertinggalan. Meskipun sulit, bukan hal yang tidak mungkin jika mempelajari Al-Qur’an sembari tetap belajar ilmu pengetahuan, karena dua-duanya adalah kebaikan yang tidak boleh di benturkan.
Terkadang terlintas pertanyaan terbesar dalam diri, mengapa banyak orang yang pintar namun cenderung merusak? Mungkin salah satu factornya adalah pendidikan pertama yang salah. Ini bukan soal orang lain, tapi juga refleksi atas diri ini.



Thursday, May 3, 2018

Dari Seseorang yang Tidak Ingin Melihat Kamu Menyerah


Dari seseorang yang ndak mau melihat kamu nyerah.


Hasil gambar untuk photo pantang menyerah
Narasi singkat yang menjadi supporting system.
Entah kenapa, belakangan ini memang berada di titik dimana aku mencoba banyak hal, tapi gagal.
Aku jadi teringat di buku Awe Ispiring Me karya Dewi Nur Aisyah tentang ketuk saja semua pintu rejeki biar Allah yang membukakan dari pintu mana rejeki itu datang, hal itu pernah aku ucapkan kepada temanku yang juga merasa titik jenuh dari berbagai macam kegagalan juga terlebih juga sebagai hal yang harus terus menerus aku camkan dalam diri.
Aku ingin selalu melibatkan Allah di setiap hal yang aku lakukan. Aku ingin kecintaan aku kepada Allah lebih di atas segalanya sehingga saat aku berada dititik ini, di titik dimana rasanya semua tidak berpihak, di titik dimana semua yang aku rencanakan gagal, di titik dimana aku sudah tertinggal sangat jauh di banding mereka, di titik dimana aku tidak mampu mengontrol diriku untuk bangkit dari keterpurukan, di titik dimana aku menjadi minoritas, di titik dimana suaraku tidak di dengar, di titik dimana yang terbaik dari-Nya adalah yang bertolak belakang dengan apa yang aku harapkan, aku ingin kecintaan ini di atas segalanya sampai tidak ada lagi hal-hal yang membuat diri ini terlarut dalam kesedihan selain sedih menangisi dosa, selain sedih dengan amal yaumi yang mungkin tidak sesuai target, selain segala hal-hal pengabdianku sebagai hamba itu bisa di tuntaskan. Aku ingin itu.
Juga perkara niat, rasanya niat itu lebih sulit untuk di luruskan karena Allah. Ketika di luruskan lalu berbelok dan begitu seteruskan. Bukankah jika semua hal yang aku coba ini di niatkan karena Allah lalu gagal, seharusnya segala kekecewaan ini tidak berlarut-larut, karena hakikatnya Allah lah yang sudah mengatur segala scenario.
H-berapa? aku ingin memaksimalkan segala ikhtiarku. Terakhir. Bukan untuk dituhankan tapi sebagai perwujudan bahwa aku bersungguh-sungguh dalam mencapai sesuatu. Aku ingin menguatkan benteng pertahanan hatiku agar tidak menye agar tidak cupu, ketika sesuatu yang aku inginkan tidak sejalan dengan takdir yang sudah Allah gariskan.
Semangat!
Terakhir, semoga kamu ndak pernah nyerah karena ada seseorang yang ndak mau melihat kamu nyerah.