Tuesday, July 9, 2019

Ria’s Journal : A Journey Pantai Siung, Pantai Nglambor, Pantai Indrayanti


Ria’s Journal : A Journey Pantai Siung, Pantai Nglambor, Pantai Indrayanti
Alhamdulillah its holiday!
Liburan kali ini karena UAS sehabis lebaran, jadi agak tanggung untuk pulang kampung lagi, di samping masih ada amanah yang harus di tuntaskan di Jogja, mengikuti konferensi internasional, ikut oral health poster contest , ngurus PPSMB I-Dentistry karena kebetulan di amanahi ketua acara, dan ada MONEV internal dan eksternal PKM, semoga tahun ini bisa bawa pulang emas di Unud Bali AAMIIN.
Eh, ceritanya bukan tentang itu, nanti kalo berhasil ada Ria’s Journal khusus hehe kalo sekarang mau berbagi tentang trip ke Pantai Siung, Pantai Nglambor, dan Pantai Indrayanti dalam 2 hari 1 malam!
Kalo kata buku The 7 Habits of Highly Effective People karyanya Stephen R.Covey di poin ke tujuh  tentang jeda, jadi katanya di ibaratkan sebuah gergaji, kalo gergaji dipake terus menerus buat motong kayu misalnya, gergaji tersebut tidak akan secepet awal atau tidak akan seproduktif awal karna mungkin udah mulai tumpul, makanya gergaji tersebut butuh jeda, nah tentunya jedanya yang efektif, kalo gergaji jedanya dengan di asah biar pas di pake jadi tajam lagi, dan lebih cepet buat motong kayu. Nah, liburan kali ini selain aku isi dengan kegiatan di awal narasi, aku juga ngisi dengan baca buku, improve kemampuan b.inggris, salah satunya juga me-refresh otak, pikiran, terutama menapaki bumi Allah bagian lain, bertasyakur, bertafakur, dan bertadabur alam hehehe..
Jadi aku dan temenku ke Pantai itu naik kendaraan umum, tadinya mau bawa motor tapi capek dan kasian motornya di bawa sejauh itu, kalo di maps dari rumahku (sekitar FKG UGM) itu 2,5 jam. Nah aku juga mau kasih tips dan trik kalo mau ngetrip kesana pake kendaraan umum. Jadi aku berangkat pagi jam 6.00 sampe di halte RS Sardjito, jadi awal mula harus naik transJogja dulu bisa 4A,4B atau 3B pokonya tanya aja sama abang TransJogjanya dan tujuan Terminal Giwangan aku pake kartu Flazz jadi Cuma bayar 2.700 estimasi perjalanan ampe giwangan mungkin 30 menit karna lancar, terus dari giwangan aku naik minibus atau semacam metro mini kalo di Jakarta, itu tujuannya ke Wonosari/Terminal Baron bayarnya 15.000 guys perorang estimasi perjalanan mungkin kurang lebih 1 jam, terus udah nyampe Wonosari kamu turun dan HATI-HATI! BANYAK PENIPU WOI, suka ada tukang ojek yang nawarin sampe pantai dengan tarif 50.000/org atau abang-abang minibus yang nawarin sampe pantai 40.000/org, JANGAN MAU! Itu SANGAT KEMAHALAN!
Jadi, kemaren tujuan aku snorkeling di Pantai Nglambor karna katanya bagus, tapi menurutku dengan jarak sejauh itu dan rute yang susah kendaraan umum dan para tukang ojek yang susah di percaya mana yang bener-bener mau bantu mana yang emang ada maunya, mending kalo snorkeling jangan di Nglambor cuy karna rutenya rada ribet, aku waktu itu karna belum tau, jadinya naik minibus ke Nglambornya dan bapaknya mau anterin juga Ke Pantai Siung karna emang jarak Pantai Siung dan Pantai Nglambor Cuma 0,2 KM , waktu itu karna aku gatau jadi ongkosnya 40.000 padahal itu termasuk kemahalan, harusnya bisa 10.000-15.000 atau 25.000 kalo di tambah jasa ojek, nah sesampainya di Pantai Siung yaa lumayan bagus pantainya, gak terlalu banyak sampah, ada tempat nongki kaya payung-payung pantai gitu, tapi gak ada spot buat main air kaya banana boat, snorkeling dll. Aku sama temenku di Pantai Siung Cuma 45 menit, karna sehabis itu kita mau ke Pantai Nglambor buat snorkeling. Seudah itu kita gass lagi di anterin bapak minibus ke Pantai Nglambor, dan minibus ternayta gak bisa sampe ke Pantai, jadi harus di sambung dengan ojek seharga 5.000 kalo ini murah karna emang deket paling 1km kurang, nah ternyata sesampainya di pantai nglambor dia pantainya sempit, kayanya emang buat khusus snorkeling dan sebenernya ombaknya lumayan gede, karena aku dan temenku sampe di Pantai Nglambor jam 11.00 kita liat-liat penginapan disana mahal cuy 250.000-300.000 tanpa tv, dan Cuma kaya kamar biasa aja tidak worth it pokonya, terus snorkelingnya baru mulai jam 14.30 an karna nunggu airnya surut, dan kalo snorkelingnya asik banget sih, 50.000 udah termasuk minum teh, foto under water, peralatan, loker, dan guide, menurutku gak kemahalan, tapi ternyata ada yang lebih murah seharga 45.000 itu lokasinya dibawah (deket pasir), terus disana gak ada sinyal sama sekali, jadi mau booking traveloka buat penginapan susah, jadinya kita cuss ke Pantai Indrayanti katanya disana ada sinyal, dan parahnya gak ada kendaraan umum karena udah sore sekitar jam 16.00 alhasil terpaksa naik ojek, MAHAL banget cuy 50.000/orang padahal jaraknya Cuma 8km, kamu pokonya harus pinter nawar, menurutku harusnya 15.000/orang tapi karena aku gak tau, ya yaudah rejeki bapaknya.
Terus sampailah di pantai Indrayanti, lumayan dapet sunset dikit, dan tempatnya lumayan bagus juga, oiya nanti ada jasa tukang foto per-foto 3000, dan karena aku suka banget di foto jadi semua jepretan abangnya aku ambil huhuhu, jadi kamu mending bawa kamera SLR sendiri, tapi karena aku belum beli dan jepretan iphone 6s gak terlalu bagus jadi aku memanfaatkan jasa tukang foto.
Sehabis itu, kita ke penginapan yang sebenernya ada di traveloka tapi kita gak booking, tapi langsungan seharga 150.000 permalam, lumayan tempatnya enak dan bersih, kamar mandi di dalem, kalo di traveloka 180.000 karena katanya ada pajaknya, jadi menurutku mending kamu langsung gausah booking traveloka.
Seudah itu, paginya aku masih main di Pantai Indrayanti dan jam 10.00 udah harus pulang karena nanti kalo jam 12.00 lebih, kendaraan umumnya jarang dan susah, dari Indrayanti naik ojek 10.000 lanjut naik minibus 10.000 sampe Wonosari dari Wonosari-Jogja 15.000 jadi sebenernya ongkos kalo tanpa penipuan itu Cuma 35.000 dari Jogja-Pantai, tapi karena I’m a newbie jadi kesana kemari dulu dan naik ojek dengan tarif yang mahal :’)
Dan menurutku kalo mau snorkeling mending jangan di Pantai Nglambor, mending di Pantai deket Pantai Indrayanti kaya Pantai Sandranan, itu rutenya gak terlalu ribet, deket juga sama Pantai Indrayanti.
Menurutku, yang paling berkesan emang snorkelingnya sih di Pantai Nglambor, meskipun pantainya biasa aja tapi snorkelingnya asik, yang kedua Pantai Siung itu nice view juga, gak terlalu ramai jadi bagus buat foto-foto dan menikmati keindahan ciptaan Allah tanpa ada banyak halangan (orang-orang), yang ketiga Pantai Indrayanti, pantai ini sebenernya terkenal banget jadi full of manusia, tidak terlalu worth it, tapi disana banyak souvenir, tempat makan, penginapan, dll, pengunjungnya banyak banget, jadi kurang kerasa feel dan ketenangannya. Jadi, kalo bener-bener mau yang tenang dan ga banyak orang, jangan pilih pantai Indrayanti.
Dan mungkin next trip ke pantai yang bisa maenan airnya banyak, kaya banana boats, dll
Kesimpulannya kalo mau ke pantai yang ada di Gunung Kidul :
TransJogja sampe Giwangan 2.700 (Pake Kartu Flazz) – Minibus ke Wonosari (turun di Terminal Baron) 15.000 – lanjut minibus lagi Wonosari-Jepitu 10.000 (Bilang ke abangnya mau ke Pantai mana, nanti diturunin di tempat terdekat – Ojek sampe pantai paling 10.000 paling mahal 20.000



Foto sebagai pemanis :)
Ini Pantai Siung

Snorkeling di Pantai Nglambor


Pantai Indrayanti pagi-pagi

Ini Pake Jasa Tukang Foto 1 jepret 3000




Cantik kan? Pemandangannya.




Ini so so ngevlog haha!





Setiap perjalanan kita harus memetik hikmah di setiap kejadian, apalagi perjalanan hidup.
Selamat bersyukur, bertafakur, bertadabur!

"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rejeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) di bangkitkan."
Al-Mulk : 15

Wednesday, July 3, 2019

Book Hunter : Overview Buku 7 Habits of Highly Effective People


Dibuku 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey, di awal dia bahas ttg paradigma, yg kita tau sederhananya paradigma adalah cara kita ‘melihat’ bkn secara visual tapi lebih ke menafsirkan dan presepsi ttg sesuatu, buku ini jg menyebutkan bahwa berkaitan dgn tujuan maka paradigma seperti peta, jika ada kesalahan dalam penggambaran wilayahny maka kita akan tersesat, begitupun paradigma.
Kita bisa saja lebih cepat, sikap atau perilaku kita semakin positif, tapi karena paradigma adalah sesuatu hal mendasar, maka jika paradigmanya salah maka kita akan tetap tersesat.
Menariknya buku ini, dia melakukan eksperimen 

Terkait gambar yg mungkin saat ini sudah sering kita lihat, tapi kondisi saat itu mahasiswa yg dijadikan eksperimen sama sekali belum pernah melihat gambar ini, sejumlah mahasiswa dibagi 2, satu diberikan gambar yg sangat menonjolkan wanita cantik, sebagian lagi menonjolkan wanita tua yg sedih, dalam 10 detik mereka melihat dgn seksama. Lalu di tampilkanlah gambar di atas, kubu 1 menafsirkan sama persis dgn yg mereka lihat sebelumnya, begitupun kubu 2, lalu terjadi perdebatan diantara keduanya.
Dengan 1 gambar yg sama saja, 2 kubu menafsirkan hal yg berbeda dgn rasionalisasi yg sama2 kuat.
Hal ini menyimpulkan bahwa
  1. Pengkondisian mempengaruhi presepsi kita, 10 detik saja bisa membuat presepsi kita berubah
  2. Presepsi kita mempengaruhi sikap dan perilaku, karena kita melihat wanita cantik maka sebenarnya tidak ada alasan kuat untuk kita membantunya menyebrang jalan
Ini bukan berarti fakta itu tidak ada, yg menjadi fakta adalah terdapat warna hitam, putih, dan garis2 tapi penafsiran masing2 ttg itu berbeda.

Saturday, February 16, 2019

Gemuruh Abai


Di suatu pelataran masjid ada anak yang matanya bengkak, kesulitan mengatur nafas, merasa sesak yang tak kunjung reda. Dia baru saja menyolatkan jenazah sahabatnya. Tiba-tiba teman anak itu berkaka
“ Mengapa kau murung Zaid? Tidak kah engkau bahagia melihat teman kita syahid dan Surga menantinya?”
“Kau tahu? Bukan hanya kita di bumi ini, semut kecil pun melawan raksasa. Kerikil melawan tank. Kamu tahu kenapa kita masih saja melempar kerikil?”
“Aku tahu lawan kita adalah senjata api, roket, tank, hingga senjata kimia yang di tembak keudara. Kita semua tahu bahwa kita akan terbunuh cepat. Kamu tahu kenapa Zaid?”
“Itu namanya sikap Zaid.”
“Sikap kita. Bukti bahwa kita menentang penjajah Israel. Bukti bahwa masih ada yang berjuang disini. Bukti bahwa kita masih ada.”
“Coba bayangkan jika kita hanya diam saat tentara Israel meneror desa-desa. Melarang orang shalat, menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit. Coba kau bayangkan kalau semua orang mengungsi dan meninggalkan Palestina. Coba bayangkan Zaid!”
“Dan yang paling penting. Kau sudah siapkan jawaban jika dihari perhitungan nanti Allah bertanya “Apa yang kamu lakukan untuk menjaga Al-Aqsa?”
“Ini bukan tentang kerikil melawan tank. Ini tentang sikap seorang muslim. Sikap kita menghadapi musuh-musuh Allah.”
Kutipan kisah dalam Seni Tinggal di Bumi – Farah Qoonita

Jadi, apakah kita akan terus memilih diam?
Melihat segala kedzaliman yang ada di dunia ini apakah kita akan diam?
Dunia ini penuh dengan gemuruh abai, masihkan kita diam?
Keberpihakan adalah sebuah keniscayaan. Jadi kamu berpihak pada kebaikan atau keburukan?
Mungkin sudah banyak hal tidak baik terjadi karena kita memilih diam dan tidak menegur, mungkin sudah banyak orang-orang jahat berkeliaran karena orang-orang baik memilih diam, mungkin sudah banyak yang mati kelaparan karena kita memilih diam dan menunggu yang lain memulai.
Mau sampai kapan berdiam diri sambil berpangku tangan?
Ikat kencang tali sepatumu kawan, karena mulai hari ini kita akan berlari kencang dan melawan segala kedzaliman.

Thursday, January 17, 2019

Liburan : Tenggelam atau Menyelam?


Kamu tahu bedanya?

Liburan adalah momentum yang sangat ditunggu-tunggu, rumah menjadi destinasti liburan yang pertama kali ingin dikunjungi, tepatnya setelah menjadi anak rantau (read : kuliah di ugm), liburan atau libur kuliah menjadi sesuatu yang bisa melenakan bisa juga menjadi starting point melakukan sesuatu gebrakan dalam diri.
Rehat/jeda, itu yang sebenarnya ditunggu, kita perlu istirahat sejenak, dari berbagai amanah, dari berbagai tuntutan, dari berbagai macam kesibukan yang kemudian menguras tenaga, pikiran, waktu, bahkan perasaan. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah rehat seperti apa yang akan kita pilih?
Apa kita menyibukan diri dalam membantu ibu memasak?
Belajar sesuatu yang baru?
Atau stalking ig doi?

Menurut buku 7 habits of highly effective people no.7 yaitu mengasah gergaji, Gergaji akan tumpul jika di gunakan terus menerus untuk memotong. Ia harus istirahat sejenak, mengambil jeda. Tapi tentunya istirahatnya dengan di asah. Agar semakin tajam, dan memotong lebih cepat sehingga semakin produktif.
Nah, jika di ibaratan otak kita, lalu fisik kita, juga rohani juda ternyata butuh jeda, tapi tentunya jeda yang juga mengasah.
Lalu yang menjadi pertanyaan, jeda apa yang kemudian mengasah?
Jawabannya adalah dengan mengkaji Al-Qur’an, menambah hafalan, membaca banyak buku inspiratif dan self improvement, datang kajian, diskusi/silaturahim, streaming kajian atau hal baru yang ingin kita pelajari, dan masih banyak lagi.

Aku pribadi berusaha menyelesaikan target-target buku bacaan liburan yaitu buku tipping point, diary garpu tala, Khadijah, lapis-lapis keberkahan, kiat kuliah di Amerika, dan beberapa kali silaturahim dengan teman-teman lama, bertukar cerita dan mengambil hikmah, juga menghindari ghibah, tapi memaknai setiap pertemuan dengan mengambil banyak pelajaran dari cerita-cerita unik setiap teman yang berbeda, juga yang pasti birrul walidain kepada orang tua yang selalu menunggu kepulangan kita setiap libur, dan tentunya mentafakuri alam dan menapaki bumi Allah bagian lain untuk menjadi tambahan rasa syukur kita kepada sang Pencipta.





 (Baca buku self improvement)

(Silaturahim sama temen SMP, Siti Nurhaliza)

(Belajar Make Up by Ikri dan Merawat Diri sekalian Silaturahim sama Ikri dan Titi)
(Silaturahim ke rumah Ikrimah dan Keluarga)





(di De Ranch Lembang)
(Ini adalah bukti konkret qowiyul jism wkwk)

*Ps : Sebenernya banyak yang lupa terdokumentasikan, kaya silaturahim ke rumah Nisa dan nyilok bareng wkwk, quality time sama keluarga, dan masih banyak lagi.

Jadi, bagaimana? Mau tenggelam atau menyelami liburan?