Atas banyaknya airmata yang jatuh. Kumohon, jangan sia-siakan akan hal itu.
Berkemaslah.. Berbenahlah..
lalu pergi..
Saat dunia tidak pernah memihak keputusan kita. Ingatlah bahwasanya kita punya Allaah yang akan mewujudkannya. Saat kita tau dunia tidak sedang baik-baik saja terhadap hidup kita. Ingatlah bahwasanya Allaah lebih dari segalanya.
Airmata yang jatuhpun sebagai bukti, apa yang dirasakan adalah kepedihan yang tidak bisa dibuktikan meski dengan berkata sekalipun. Maka ia luruh sebagai wujud kelegaan dari apa yang dirasakan.
Jika kita memahami, segala kepahitan akan berakhir. Maka sudah sepatutnya kitapun paham, bahwa setelah kepahitan akan selalu ada kebahagiaan yang akan hadir. Keduanya beriringan. Tidak akan pernah kita temui bahwa malam akan selalu tampak tanpa adanya pagi. Demikian pula pada pagi, akan selalu tampak malam sesudahnya.
Maka sama halnya dengan sebuah kesedihan, ia akan berakhir dan akan berubah menjadi bahagia yang akan kita syukuri nantinya.
Allah Ta'ala menentukan takdir semua makhluk, tidak ada yang dapat mengubahnya selain Dia. Allah yang menentukan kebaikan dan keburukan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan. Manusia tidak dapat melawannya.
Jika Allah menentukan kemiskinan kepada seseorang, maka tidak seorang pun yang bisa membuatnya kaya. Ketika Allah menentukan kesengsaraan bagi seseorang, maka tidak ada satu pun yang dapat membuatnya bahagia.
Bila demikian, ke mana manusia hendak lari? Ke mana manusia hendak berteduh dan bernaung dari takdir yang tak dapat diubah kecuali atas izin-Nya? Ke mana manusia hendak bersandar dari sesuatu urusan yang tidak berada ditangannya?
Orang-orang yang berpikir tentu akan bernaung kepada Dzat yang telah mentakdirkan segala sesuatu. Karena, hanya dalam naungan-Nya ia akan merasakan ketenangan. Hanya dengan menyandarkan diri kepada-Nya, dia akan memperoleh kebahagiaan. Hanya dalam kepasrahan diri kepada-Nya, akan sirna segala kecemasan dan kesedihan.
Bagaimana mungkin seorang hamba Allah tidak bahagia, bukankah jejak-jejak kasih sayang Allah begitu tampak dalam takdir kehidupannya? Bagaimana ia tidak tenang, bukankah semua takdir yang ia suka atau yang ia benci merupakan sarana untuk menggapai ridha dan cinta-Nya?
Bagaimana mungkin seorang hamba-Nya akan merasakan sedih dan takut, karena sebelumnya ia telah diajarkan cara menghadapinya: bersabar ketika sengsara, bersyukur saat bahagia. Sehingga kesulitan dan kesusahan hidup yang dirasakannya tidak akan menyebabkannya berputus asa; kebahagiaannya tidak akan membawanya kepada kesombongan.
- Nasihat ini manis, dari sebuah buku yang berjudul “untukmu yang berjiwa Hanif (karya Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah).
Kini tenanglah wahai diri, setiap kepedihan yang dirasa Ia Maha Tahu. Bahkan tanpa terucap sekalipun..
(Perempuan dalam dekapan Tuhannya - diriku)











No comments:
Post a Comment