Tuesday, September 19, 2017

Mencoba Menyuarakan

Saat pertama kali saya mendengar orasi beliau di tengah-tengah megahnya masjid kampus, sedikit demi sedikit hati saya tergerak, lalu saya ikuti seminar dan dipertemukan lagi, saat itu hati saya semakin mantap tergerak. Ada hal yang dilupakan, ada pemikiran-pemikiran egois yang ternyata selama ini mengakar dalam diri. Saat itu yang saya inginkan hanya bagaimana mencapai cumlaude, bagaimana caranya exchange, bagaimana bisa mendapat gold di PIMNAS, fokus saja belajar dan melesat setinggi-tingginya.
Tapi ada orang yang menepuk-nepuk pundak saya dan berkata “Ini tidak hanya soal diri sendiri tetapi juga orang lain.” Awalnya saya tidak peduli lalu beliau berorasi sampai hati ini bergerak dengan pasti.
Ternyata ada tanggung jawab yang terkadang kita lupakan, juga ada konsep perguruan tinggi yang juga kita sepelekan yaitu dalam tri dharma perguruan tinggi dimana ada tiga aspek yaitu pendidikan, penelitian, dan yang terakhir adalah pengabdian. Bukankah itu sudah cukup jelas bahwa kuliah tidak hanya mengenai pendidikan ada juga aspek pengabdian yang terkadang hanya sekedar menggugurkan kewajiban tanpa jiwa tanpa rasa.
Saat ketigakalinya saya bertemu beliau, lagi-lagi orasinya membuat hati yang beku jadi menggebu-gebu untuk maju. Beliau berkata “Saya belum pernah lihat FKG turun kejalan membersamai dalam menyuarakan.” Dalam batin saya apa yang harus di suarakan Mas? Kita hanya perlu belajar giat, menghafal anatomi, kebut mengerjakan laporan praktikum yang menumpuk setiap minggunya, dan memberikan pelayanan terbaik setelah lulus nanti. Tetapi ternyata hal terbersit itu salah Mas, banyak sekali yang harus di lakukan FKG untuk turun ke jalan mungkin tidak hanya dalam mengkritisi pemerintah dalam bidang kesehatan tapi juga menyuarakan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan karena ternyata menurut survei, Selain Banten, Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah juga memiliki rasiorendah yaitu sebesar 0,54, 0,67 dan 0,74 per 30.000 penduduk. Selain 3 provinsi tersebut, provinsi lainnya di Pulau Jawa juga memiliki rasio Puskesmas yang rendah. Hal tersebut disebabkan jumlah dan kepadatan populasi yang tinggi. Selain berasal dari sektor pemerintah, pelayanan kesehatan di Pulau Jawa juga didukung oleh sektor swasta, sehingga pemenuhan pelayanan kesehatan tidak hanya berasal dari pelayanan kesehatan dasar. Namun demikian, kondisi seperti ini tetap harus diperhatikan, karena walaupun kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dapat dipenuhi oleh sektor swasta, suatu wilayah tetap membutuhkan entitas yang berperan sebagai penanggungjawab upaya kesehatan masyarakat. (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Itu berarti bahwa semua yang mengabdikan dirinya untuk mengeyam pendidikan yang berkaitan dengan tenaga kesehatan Indonesia sangat dibutuhkan agar terciptanya keseimbangan antara tenaga kesehatan Indonesia dan penduduk Indonesia. Maka dari itu saya bertekad untuk belajar lebih keras juga membersamai menyuarakan kebaikan karena semua tenaga kesehatan itu sangat dibutuhkan, tidak hanya dokter karena dokter pun akan pincang jika tidak ada staf-staf yang membersamai untuk bekerja sama untuk menjadikan Indonesia lebih sehat, penduduk sadar akan kesehatan, dan peningkatan kecerdasan penduduk karena asupan gizi kesehatan yang memadai.
Bahkan menurut survei penyakit tentang kesehatan gigi dan mulut bahwa 90% penduduk Indonesia menyatakan menderita sakit gigi dan mulut yang bersifat agresif kumulatif, 10% orang Indonesia yang mengetahui cara menyikat gigi yang benar, 67% penduduk Indonesia yang menyikat gigi seadanya, dan 23% penduduk Indonesia yang jarang bahkan tidak pernah menyikat gigi. Dan hal yang paling buruk dokter gigi di Indonesia sangat minim (Matram, Zaura, 2007). Kondisi yang sangat mengkhawatirkan, membuat saya bertekad untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya, sebanyak-banyaknya dan yang jelas adalah yang bisa di terapkan manfaatnya kepada masyarakat banyak dan menyuarakan ke jalan dalam preventif untuk kesehatan terutama gigi dan mulut. Lalu lagi-lagi saya setuju Mas dengan pemikiran Mas.
Dan baru-baru ini ada kasus yang rasanya menyayat hati setiap kali di dengar, setiap kali di baca di media-media mengenai kasus Debora, menurut pandangan saya dan dari tabayyun yang sudah saya lakukan, ada ketimpangan disini ada tindakan kurang tepat, saat seharunya pasien ditangani dengan cepat dan tepat ada beberapa oknum yang masih saja mementingkan komersiil, padahal fungsi sosialnya sudah jelas dan saya rasa ini hanya salah satu korban diluar sana banyak yang terjadi, bahkan di tanah kelahiran saya. Rasanya sedih dan teriris hati ini, saya tidak tahu bagaimana bisa pendidikan yang seharusnya mencerdaskan malah berkebalikan dan merampas hak-hak orang lain dan di komersiilkan.
Saya juga ingin bersuara setelah sekian lama menyesak di dada, sekolah kedokteran di PTS juga beberapa di PTN yang memasang harga tinggi terhadap mahasiswanya membuat mahasiwa tersebut pada akhirnya berorientasi juga pada uang karena di awal sudah banyak sekali uang yang dikeluarkan sehingga fungsi sosialnya di lupakan, sumpah dokternya di sepelekan. Saya tidak tahu peran apa yang seharusnya saya lakukan hingga saya tidak hanya mengkritisi tetapi juga berkontribusi.
Dari Mahasiswa Baru FKG UGM yang tidak tahu apa-apa dan masih anak kemarin sore yang selalu berusaha menyuarakan kebaikan karena pesan dari Mas Alfath “Serukan terus kebaikan hingga kejahatan akan menyerah pada kebaikan karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”
Yogyakarta, 20 September 2017
00.51 WIB
Di sela-sela mengejar deadline laporan praktikum

Di pojok kamar kost di antara tumpukan buku-buku

1 comment: