Saat
pertama kali saya mendengar orasi beliau di tengah-tengah megahnya masjid
kampus, sedikit demi sedikit hati saya tergerak, lalu saya ikuti seminar dan
dipertemukan lagi, saat itu hati saya semakin mantap tergerak. Ada hal yang
dilupakan, ada pemikiran-pemikiran egois yang ternyata selama ini mengakar
dalam diri. Saat itu yang saya inginkan hanya bagaimana mencapai cumlaude, bagaimana caranya exchange, bagaimana bisa mendapat gold di PIMNAS, fokus saja belajar dan
melesat setinggi-tingginya.
Tapi
ada orang yang menepuk-nepuk pundak saya dan berkata “Ini tidak hanya soal diri
sendiri tetapi juga orang lain.” Awalnya saya tidak peduli lalu beliau berorasi
sampai hati ini bergerak dengan pasti.
Ternyata
ada tanggung jawab yang terkadang kita lupakan, juga ada konsep perguruan
tinggi yang juga kita sepelekan yaitu dalam tri dharma perguruan tinggi dimana
ada tiga aspek yaitu pendidikan, penelitian, dan yang terakhir adalah
pengabdian. Bukankah itu sudah cukup jelas bahwa kuliah tidak hanya mengenai
pendidikan ada juga aspek pengabdian yang terkadang hanya sekedar menggugurkan
kewajiban tanpa jiwa tanpa rasa.
Saat
ketigakalinya saya bertemu beliau, lagi-lagi orasinya membuat hati yang beku jadi menggebu-gebu untuk maju. Beliau
berkata “Saya belum pernah lihat FKG turun kejalan membersamai dalam
menyuarakan.” Dalam batin saya apa yang harus di suarakan Mas? Kita hanya perlu
belajar giat, menghafal anatomi, kebut mengerjakan laporan praktikum yang
menumpuk setiap minggunya, dan memberikan pelayanan terbaik setelah lulus
nanti. Tetapi ternyata hal terbersit itu salah Mas, banyak sekali yang harus di
lakukan FKG untuk turun ke jalan mungkin tidak hanya dalam mengkritisi
pemerintah dalam bidang kesehatan tapi juga menyuarakan kepada masyarakat
tentang pentingnya menjaga kesehatan karena ternyata menurut survei, Selain
Banten, Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah juga memiliki
rasiorendah yaitu sebesar 0,54, 0,67 dan 0,74 per 30.000 penduduk. Selain 3
provinsi tersebut, provinsi lainnya di Pulau Jawa juga memiliki rasio Puskesmas
yang rendah. Hal tersebut disebabkan jumlah dan kepadatan populasi yang tinggi.
Selain berasal dari sektor pemerintah, pelayanan kesehatan di Pulau Jawa juga
didukung oleh sektor swasta, sehingga pemenuhan pelayanan kesehatan tidak hanya
berasal dari pelayanan kesehatan dasar. Namun demikian, kondisi seperti ini
tetap harus diperhatikan, karena walaupun kebutuhan pelayanan kesehatan dasar
dapat dipenuhi oleh sektor swasta, suatu wilayah tetap membutuhkan entitas yang
berperan sebagai penanggungjawab upaya kesehatan masyarakat. (Kementerian
Kesehatan RI, 2015). Itu berarti bahwa semua yang mengabdikan dirinya untuk
mengeyam pendidikan yang berkaitan dengan tenaga kesehatan Indonesia sangat
dibutuhkan agar terciptanya keseimbangan antara tenaga kesehatan Indonesia dan
penduduk Indonesia. Maka dari itu saya bertekad untuk belajar lebih keras juga
membersamai menyuarakan kebaikan karena semua tenaga kesehatan itu sangat
dibutuhkan, tidak hanya dokter karena dokter pun akan pincang jika tidak ada
staf-staf yang membersamai untuk bekerja sama untuk menjadikan Indonesia lebih
sehat, penduduk sadar akan kesehatan, dan peningkatan kecerdasan penduduk
karena asupan gizi kesehatan yang memadai.
Bahkan
menurut survei penyakit tentang kesehatan gigi dan mulut bahwa 90% penduduk
Indonesia menyatakan menderita sakit gigi dan mulut yang bersifat agresif
kumulatif, 10% orang Indonesia yang mengetahui cara menyikat gigi yang benar,
67% penduduk Indonesia yang menyikat gigi seadanya, dan 23% penduduk Indonesia
yang jarang bahkan tidak pernah menyikat gigi. Dan hal yang paling buruk dokter
gigi di Indonesia sangat minim (Matram, Zaura, 2007). Kondisi yang sangat
mengkhawatirkan, membuat saya bertekad untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya,
sebanyak-banyaknya dan yang jelas adalah yang bisa di terapkan manfaatnya
kepada masyarakat banyak dan menyuarakan ke jalan dalam preventif untuk
kesehatan terutama gigi dan mulut. Lalu lagi-lagi saya setuju Mas dengan
pemikiran Mas.
Dan
baru-baru ini ada kasus yang rasanya menyayat hati setiap kali di dengar,
setiap kali di baca di media-media mengenai kasus Debora, menurut pandangan
saya dan dari tabayyun yang sudah
saya lakukan, ada ketimpangan disini ada tindakan kurang tepat, saat seharunya
pasien ditangani dengan cepat dan tepat ada beberapa oknum yang masih saja
mementingkan komersiil, padahal fungsi sosialnya sudah jelas dan saya rasa ini
hanya salah satu korban diluar sana banyak yang terjadi, bahkan di tanah
kelahiran saya. Rasanya sedih dan teriris hati ini, saya tidak tahu bagaimana
bisa pendidikan yang seharusnya mencerdaskan malah berkebalikan dan merampas
hak-hak orang lain dan di komersiilkan.
Saya
juga ingin bersuara setelah sekian lama menyesak di dada, sekolah kedokteran di
PTS juga beberapa di PTN yang memasang harga tinggi terhadap mahasiswanya
membuat mahasiwa tersebut pada akhirnya berorientasi juga pada uang karena di
awal sudah banyak sekali uang yang dikeluarkan sehingga fungsi sosialnya di
lupakan, sumpah dokternya di sepelekan. Saya tidak tahu peran apa yang
seharusnya saya lakukan hingga saya tidak hanya mengkritisi tetapi juga berkontribusi.
Dari
Mahasiswa Baru FKG UGM yang tidak tahu apa-apa dan masih anak kemarin sore yang
selalu berusaha menyuarakan kebaikan karena pesan dari Mas Alfath “Serukan
terus kebaikan hingga kejahatan akan menyerah pada kebaikan karena mendiamkan
kesalahan adalah kejahatan.”
Yogyakarta,
20 September 2017
00.51
WIB
Di
sela-sela mengejar deadline laporan
praktikum










MashaaAllah, semangat calon dokter muda!!!
ReplyDelete