Saat saya baru pulang dari
perantauan (read: Jogja) ternyata kampung halaman sedang di sibukkan dengan
pro-kontra pengadaan Bioskop Dee Cinema di Cianjur tepatnya di Ciloto, dari
beberapa informasi yang saya dapatkan lalu kemudian saya tabayunkan dan mencoba
saya kritisi ternyata memang antusiasme dari warga Cianjur terutama kaum muda
itu sangat tinggi bukti survei di sosial media yaitu instagram oleh akun
@infocianjur lebih dari 50% warga Cianjur yang mewakili setuju akan pendirian
bioskop ini, namun sangat disayangkan kaum muda Cianjur tidak kemudian
mempertimbangkan serta mengkritisi seberapa banyak kebermanfaatan dan
ketidakbermanfaatan yang ada setelah bioskop tersedbut didirikan. Apakah
kebermanfaatannya lebih banyak dari ketidakbermanfaatan atau malah sebaliknya?
Lalu kemudian beberapa waktu yang
lalu terjadi aksi menyuarakan ketidaksetujuan pendirian bioskop serta dzikir
bersama menolak pengadaan bioskop tersebut yang di inisiasi oleh alim ulama atau
MUI Cipanas dan kemudian terjadi lagi pro-kontra, dari beberapa komentar yang
saya baca di salah satu postingan instagram @visitcianjur beberapa komentar
negatif berserakan tanpa mempertimbangkan efek negatif dari komentar tersebut
tanpa dibekali pemahaman yang akurat atas pengambilan sikap para warganet
Cianjur terutama kaum muda yang seolah-oleh menganggap Cianjur adalah kota yang
fobia perkembangan zaman, yang seolah-oleh menyebutkan bahwa Cianjur terlalu
kolot dan aksi yang di adakan itu tidak ada kebermanfaatan, bahkan ada yang
mengatakan “Kenapa tidak lewat jalur diskusi?” atau ada juga yang mengatakan “Kenapa
saat sudah berdiri, baru disikapi?” Nah, ini adalah contoh komentar yang tidak
di bekali data yang akurat, bahkan dari informasi yang saya dapatkan dari akun
youtube @infocianjur tentang percakapan mediasi Wakil Bupati Cianjur, Polres,
MUI Cipanas, dan pihak Dee Cinema menyebutkan bahwa aksi tersebut adalah ambil
sikap yang terakhir ketika secara lisan tidak di dengar, saat secara tulisan di
abaikan. Saya rasa bentuk komentar yang di sebutkan tanpa ada data yang jelas
adalah caurisme.
Saya mentabayunkan dari perkataan-perkataan
para Alim Ulama Cipanas atau MUI Cipanas dalam mediasi tersebut bahwa ternyata
memang pada faktanya tempat pendirian Bioskop Dee Cinema itu jaraknya dekat
dengan Masjid, jika kita ambil positifnya mungkin para pengunjung bisa dengan
mudah shalat berjamaah di masjid tapi jika di lihat dari sisi negatifnya saya
melihat MUI Cipanas itu resah artinya khawatir bahwa kebiasaan shalat berjamaah
itu jadi seolah-olah terkikis karena ada tempat yang terlihat lebih menarik
untuk di kunjungi, dan pada faktanya jadwal bioskop sering kali bertabrakan
dengan waktu shalat.
Lalu saya juga melihat keresahan
dari MUI Cipanas bahwa mereka begitupun saya khawatir icon kota Cianjur yang ‘katanya’ kota Santri semakin tidak
mencerminkan kota Santri tersebut karena pada faktanya kebanyakan pengunjung
bioskop adalah kaum muda yang dikhawatirkan budaya berpacaran atau berkhalwat atau
bahkan maksiat semakin mengakar di kota Santri ini. Apalagi kita tahu bahwa
salah satu visi/misi wakil bupati cianjur adalah menjadikan Cianjur lebih
Agamis, apakah perizinan bioskop ini merupakan hal yang bijaksana? Mungkin bisa
dikritisi lagi.
Kemudian keresahan yang saya
tangkap dan juga saya khawatirkan adalah, ketika jam setelah ashar atau setelah
maghrib yang biasanya waktu untuk mengaji jadi berganti menjadi mengunjungi
tempat hiburan tersebut.
Saya paham semuanya tergantung
masing-masing orang dan bijaksana dalam bersikap tapi fakta di lapangan berkata
lain. Nah, untuk menghindari hal tersebut maka dari itu mengapa MUI Cipanas
menginisiasikan hal tersebut karena mereka khawatir akan warga Cianjur terutama
kaum muda.
Kemudian, saya juga ingin
menyampaikan bahwa bukti konkret sudah jelas bahwa sebenarnya MUI Cipanas
mengambil sikap itu tidak hanya saat setelah bioskop tersebut berdiri tetapi
sejak sebelum perizinan, kemudian saat pembangunan, dan pada akhirnya bioskop
itu berdiri. Mungkin temen-temen bisa lihat di akun youtube info cianjur
tentang “Alasan Mengapa Bioskop Dee Cinema di Tutup ?”
Dan mungkin saran saya untuk pihak
yang berwenang di Cianjur terutama Bupati Cianjur yang berwenang untuk memberi
perizinan, untuk kemudian di kaji ulang dan di kritisi kebermanfaatan dan
ketidakbermanfaatan pengadaan bioskop tersebut terutama yang efeknya langsung
untuk warga Cianjur. Hatur Nuhun.
Tulisan ini tidak mengurangi rasa
hormat saya kepada semua pihak yang saya libatkan dalam tulisan ini. Saya
berusaha menyuarakan hal yang memang berangkat dari keresahan saya sendiri akan
adanya hal tersebut di dukung dengan data-data yang akurat yang sudah saya
tabayunkan.














