Thursday, December 28, 2017

Menyikapi Pendirian Bioskop Dee Cinema di Cianjur


Saat saya baru pulang dari perantauan (read: Jogja) ternyata kampung halaman sedang di sibukkan dengan pro-kontra pengadaan Bioskop Dee Cinema di Cianjur tepatnya di Ciloto, dari beberapa informasi yang saya dapatkan lalu kemudian saya tabayunkan dan mencoba saya kritisi ternyata memang antusiasme dari warga Cianjur terutama kaum muda itu sangat tinggi bukti survei di sosial media yaitu instagram oleh akun @infocianjur lebih dari 50% warga Cianjur yang mewakili setuju akan pendirian bioskop ini, namun sangat disayangkan kaum muda Cianjur tidak kemudian mempertimbangkan serta mengkritisi seberapa banyak kebermanfaatan dan ketidakbermanfaatan yang ada setelah bioskop tersedbut didirikan. Apakah kebermanfaatannya lebih banyak dari ketidakbermanfaatan atau malah sebaliknya?
Lalu kemudian beberapa waktu yang lalu terjadi aksi menyuarakan ketidaksetujuan pendirian bioskop serta dzikir bersama menolak pengadaan bioskop tersebut yang di inisiasi oleh alim ulama atau MUI Cipanas dan kemudian terjadi lagi pro-kontra, dari beberapa komentar yang saya baca di salah satu postingan instagram @visitcianjur beberapa komentar negatif berserakan tanpa mempertimbangkan efek negatif dari komentar tersebut tanpa dibekali pemahaman yang akurat atas pengambilan sikap para warganet Cianjur terutama kaum muda yang seolah-oleh menganggap Cianjur adalah kota yang fobia perkembangan zaman, yang seolah-oleh menyebutkan bahwa Cianjur terlalu kolot dan aksi yang di adakan itu tidak ada kebermanfaatan, bahkan ada yang mengatakan “Kenapa tidak lewat jalur diskusi?” atau ada juga yang mengatakan “Kenapa saat sudah berdiri, baru disikapi?” Nah, ini adalah contoh komentar yang tidak di bekali data yang akurat, bahkan dari informasi yang saya dapatkan dari akun youtube @infocianjur tentang percakapan mediasi Wakil Bupati Cianjur, Polres, MUI Cipanas, dan pihak Dee Cinema menyebutkan bahwa aksi tersebut adalah ambil sikap yang terakhir ketika secara lisan tidak di dengar, saat secara tulisan di abaikan. Saya rasa bentuk komentar yang di sebutkan tanpa ada data yang jelas adalah caurisme.
 Saya mentabayunkan dari perkataan-perkataan para Alim Ulama Cipanas atau MUI Cipanas dalam mediasi tersebut bahwa ternyata memang pada faktanya tempat pendirian Bioskop Dee Cinema itu jaraknya dekat dengan Masjid, jika kita ambil positifnya mungkin para pengunjung bisa dengan mudah shalat berjamaah di masjid tapi jika di lihat dari sisi negatifnya saya melihat MUI Cipanas itu resah artinya khawatir bahwa kebiasaan shalat berjamaah itu jadi seolah-olah terkikis karena ada tempat yang terlihat lebih menarik untuk di kunjungi, dan pada faktanya jadwal bioskop sering kali bertabrakan dengan waktu shalat.
Lalu saya juga melihat keresahan dari MUI Cipanas bahwa mereka begitupun saya khawatir icon kota Cianjur yang ‘katanya’ kota Santri semakin tidak mencerminkan kota Santri tersebut karena pada faktanya kebanyakan pengunjung bioskop adalah kaum muda yang dikhawatirkan budaya berpacaran atau berkhalwat atau bahkan maksiat semakin mengakar di kota Santri ini. Apalagi kita tahu bahwa salah satu visi/misi wakil bupati cianjur adalah menjadikan Cianjur lebih Agamis, apakah perizinan bioskop ini merupakan hal yang bijaksana? Mungkin bisa dikritisi lagi.
Kemudian keresahan yang saya tangkap dan juga saya khawatirkan adalah, ketika jam setelah ashar atau setelah maghrib yang biasanya waktu untuk mengaji jadi berganti menjadi mengunjungi tempat hiburan tersebut.
Saya paham semuanya tergantung masing-masing orang dan bijaksana dalam bersikap tapi fakta di lapangan berkata lain. Nah, untuk menghindari hal tersebut maka dari itu mengapa MUI Cipanas menginisiasikan hal tersebut karena mereka khawatir akan warga Cianjur terutama kaum muda.
Kemudian, saya juga ingin menyampaikan bahwa bukti konkret sudah jelas bahwa sebenarnya MUI Cipanas mengambil sikap itu tidak hanya saat setelah bioskop tersebut berdiri tetapi sejak sebelum perizinan, kemudian saat pembangunan, dan pada akhirnya bioskop itu berdiri. Mungkin temen-temen bisa lihat di akun youtube info cianjur tentang “Alasan Mengapa Bioskop Dee Cinema di Tutup ?”
Dan mungkin saran saya untuk pihak yang berwenang di Cianjur terutama Bupati Cianjur yang berwenang untuk memberi perizinan, untuk kemudian di kaji ulang dan di kritisi kebermanfaatan dan ketidakbermanfaatan pengadaan bioskop tersebut terutama yang efeknya langsung untuk warga Cianjur. Hatur Nuhun.

Tulisan ini tidak mengurangi rasa hormat saya kepada semua pihak yang saya libatkan dalam tulisan ini. Saya berusaha menyuarakan hal yang memang berangkat dari keresahan saya sendiri akan adanya hal tersebut di dukung dengan data-data yang akurat yang sudah saya tabayunkan.

Tuesday, October 31, 2017

Keniscayaan Tentang Sebuah Ketidakjelasan


Untuk kamu yang hanya menilai dari luar
Untuk kamu yang tidak merasakan kesakitan yang sama
Untuk kamu yang mencaci di belakang
Untuk kamu yang hanya bisa mengkritisi tanpa memberi solusi

Kamu tidak tahu..
Kadar beratnya seseorang menjalani hidup
Kadar beratnya seseorang mengemban suatu amanah besar
Amanah Tuhan..
Amanah Orangtua..

Kamu tidak tahu bagaimana lelahnya hidup diatas ketidakjelasan
Kamu tidak tahu bagaimana lelahnya setiap hari bangun dan sadar bahwa ini bukan jalan mimpimu
Kamu tidak tahu bagimana berusaha berjalan tapi tak tahu apa yang harus di perjuangkan
Untukmu yang menyemangati tapi tidak ada efek yang pasti

Kamu tidak tahu disini ada yang mati-matian mencari alasan agar tetap bisa berlari
Atau mungkin berjalan atau bahkan merangkak menapaki
Merobek sebuah keniscayaan bahwa ini memang sebuah ketidakjelasan
Kamu tidak tahu disini ada orang yang merangkak-rangkak bertahan
Karena tak ada lagi hal yang bisa dipilih untuk di perjuangkan

Kamu tidak tahu bagaimana mungkin pelajaran itu masuk ke otak dengan sebuah keterpaksaan
Karena setiap kali menyadari ketidakjelasan ini adalah sebuah keniscayaan
Ketika sudah habis semua kata untuk dikeluh kesahkan
Bahkan mungkin hanya tetes-tetes air yang mengalir yang bisa menjelaskan

Kamu tidak tahu ada kertas dindingnya yang hanya menjadi sebuah hayalan
Hanya kertas dan tulisan yang seakan hanya menjadi kenangan
Hanya bisa di tatap lalu di lupakan
Karena tak ada lagi celah sempit untuk memperjuangkan

Dalam hati selalu bertanya-tanya : Apakah amanah ini salah pundak?

Yogyakarta, 31 Oktober 2017

23.10

Sunday, October 1, 2017

Catatan Kehidupan Ria Risdianti

Cianjur, Jawa Barat yang terkenal dengan berasnya yang berkualitas bagus belasan tahun lalu tepat hari Minggu, 02 November di Jalan Mariwati, Kp. Balakang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, melahirkan seorang perempuan yang oleh orang tuanya di beri nama Ria Risdianti, terlahir sebagai seorang muslim dan tumbuh menjadi gadis yang ceria dan sehat. Terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, namun harmoni. Lahir sebagai adik dari kakak perempuannya yang bernama Reni.
Pendidikan dasar yang di tempuh yaitu di SDN Tarigu, lalu melanjutkan ke MTs Assa’idiyyah salah satu sekolah swasta namun dasar pertama hingga jati dirinya sedikit demi sedikit terbentuk.
Perjalanan di mulai, gadis yang melangkahkan diri untuk mengambil sekolah swasta ini tanpa alasan, tanpa mendaftar sekolah negeri terlebih dahulu, yang terbersit saat itu hanya menggugurkan kewajiban untuk mengemban pendidikan lanjutan, lalu datang dorongan lingkungan mulai menjadikan Ria tumbuh menjadi gadis yang penuh ambisi dan semangat. Saat kelas satu, Ria mulai menyibukan dirinya untuk bergabung dengan OSIS setelah berbagai rangkaian seleksi yang ada, Ria diterima dan menjadi anggota Seksi Bidang 8 yaitu Kesenian, setengah berjalan saat koordinator seksi bidang delapan mengundurkan diri saat itu juga oleh ketua osis periode itu dengan segala macam prosedur yang ada Ria diangkat menjadi koordinator seksi bidang 8 padahal saat itu masih menduduki kelas satu, di tambah Ria mengikuti Paskibra juga Pramuka yang masih sebagai anggota biasa, lalu loncat ke kelas dua studinya berjalan dengan baik dan saat itu Ria tidak ingin membenturkan kebaikan karena organisasi adalah kebaikan akademik juga kebaikan maka dua-duanya harus berjalan dengan baik, harus berjalan beriringan, karena kebaikan tidak bisa di benturkan dan saat itu Ria mendapat juara umum kelas. Loncat ke kelas dua semangatnya terus berapi-api, apalagi ketika guru matematikanya memberikan cerita mengenai tulisan target hidup yang di tempel di dinding, Ria mencoba untuk membuat rangkaian target hidup yang dinarasikan dengan panjangnya sampai beberapa lembar dari titik saat Ria menulis sampai nanti saat ajal menjemput sudah Ria tuliskan lengkap disana, salah satu yang Ria inginkan saat itu bisa menjadi Ketua OSIS MTs Assa’idiyyah, menjadi Sekretaris Umum Pramuka, lalu tetap menjadi juara umum sampai lulus, dan masih banyak target lain yang Ria narasikan, dan satu demi satu target itu bisa di capai. Sampai jabatan-jabatan itu memaksa Ria yang saat itu masih belum istiqamah berhijab menjadi istiqamah karena hidayah bisa datang dari mana saja, yang asalnya dari tuntutan jabatan namun pada akhirnya lillah alias karena Allah. Saat kelas dua juga Ria menjadi delegasi Pramuka Kwaran Cipanas untuk mengikuti Gladian Pemimpin Regu di Bumi Perkemahan Sukabumi, lalu saat itu Ria juga mendapat beasiswa karena berbagai prestasi. Lalu loncat ke kelas tiga Ria mulai memfokuskan semuanya untuk belajar dan akhirnya bisa mendapat Juara Umum UN Tertinggi di MTs Assaidiyyah.
Ada hasil target yang mulai berbelok ketika Ria ingin melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Cianjur, Ria meyakinkan diri bahwa semuanya tidak selalu berjalan mulus, ada kuasa Tuhan yang menentukan semua skrenario hidup, saat itu orang tua Ria tidak mengizinkan sehingga Ria memilih SMAN 1 Sukaremi menjadi tempatnya mengemban ilmu lanjutan. Tuhan memang mempunyai jalan terbaik untuk hambanya, banyak hal luar biasa yang didapatkan Ria di SMAN 1 Sukaresmi ini.
Lagi-lagi organisasi pertama yang Ria ikuti adalah OSIS, setelah serangkaian seleksi yang diadakan Ria lulus dan menjadi pengurus OSIS di seksi bidang 9 yaitu teknologi informasi dan komunikasi, lalu di tambah Ria mengikuti ROHIS ini merupakan wadah baru yang Ria ikuti, juga saat itu Ria mulai aktif mengikuti mentoring/liqo yang dampaknya luar biasa sampai saat ini.
OSIS di SMA terasa lebih sibuk dan padat dengan kegiatan-kegiatannya, namun saat itu Ria berusaha untuk menyeimbangkan dengan akademik meskipun saat kelas satu hasilnya tidak seimbang, Ria mendapat rengking 3 di kelasnya, lalu naik ke kelas dua, Ria tetap melanjutkan OSIS menjadi salah satu organisasi yang di ikuti dan saat itu Ria di calonkan menjadi Ketua Umum OSIS, namun pada akhirnya amanah besar ini jatuh kepada teman seperjuangan dakwah Ria di ROHIS yaitu Slamet Iman Taopik dan Ria menjadi wakil beliau. Dan kita mengemban amanah sama-sama dalam satu periode.
ROHIS di SMA adalah wajah baru bagi Ria namun berdampak luar biasa, kegiatan islam yang menjadi wadah untuk berdakwah membuat semangat tersendiri bagi Ria untuk memperbaiki diri, bagaimana bisa jika Ria sendiri tidak baik tetapi ingin membuat orang lebih baik seperti misalnya Ria menyuruh orang untuk membuang sampah pada tempatnya tetapi Ria sendiri membuang sampah sembarangan begitu simpelnya, di ROHIS ini wadah luar biasa yang membuat Ria yang asalnya hanya memakai kerudung/hijab seadanya kini sedikit demi sedikit mengulurkan hijabnya lebih panjang menutupi dada sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 dan An-Nur : 31
Mentoring/Liqo juga sangat berperan penting menjadikan diri Ria menjadi lebih baik, Zahratunnida adalah nama grup mentoring yang membersamai Ria dari kelas satu SMA sampai sekarang, di mentori oleh Guru Kimia salah satu SMA di Cianjur yaitu Teh Melin juga berisi orang-orang yang tidak diam dan mendiamkan, berisi orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan, saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Dari kesibukan yang ada disinilah tempat istirahat dan juga berbagi cerita, sesekali mereka juga sama-sama membersamai untuk rihlah/jalan-jalan ke belahan bumi lain mensyukuri karunia Allah.
HIROCI yaitu Himpunan ROHIS Cianjur yang juga Ria ikuti, di organisasi ini Ria menjadi salah satu wakil dari ROHIS SMAN 1 Sukaresmi, Ria mengemban amanah di Bidang Kaderisasi, berkumpul dengan teman-teman ROHIS SMA Se-Cianjur merupakan jalan bagi ria untuk memperluas relasi, mempererat silaturahmi dan juga ukhuwah.
Prestasi yang di torehkan lewat pena yaitu juara 1 cipta puisi ramadhan, kontributor cipta puisi terbaik penerbit kodon yang diterbitkan di buku antopologi puisi musik, menjadi pencipta puisi terbaik muslimah, juga menjadi delegasi dalam pelatihan ROHIS di Jawa Barat.
Lalu setelah lulus SMA Ria melanjutkan studi ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dengan harapan bisa melesat setinggi-tingginya, mengikuti student exchange, meraih medali emas di PIMNAS, dan cumlaude . Tapi saat Ria mengikuti rangkaian acara BEM KM UGM di acara I’M GAMADA ternyata ada konsep yang salah, Ria menyadari ada tanggung jawab lebih yang tidak hanya tentang diri sendiri tapi juga orang lain. Setiap kali ingin melangkah untuk diri sendiri Ria selalu terngiang-ngiang setiap ucapan Mas Alfath Presiden Mahasiswa UGM 2017 bahwa kita belajar karena kita bodoh dan selamanya kita tidak ingin berada dalam kebodohan dan juga dengan harapan kita bisa mengeluarkan orang lain dari kebodohan. Ria mulai memasukan konsep agar bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak maju sendiri tapi maju bersama-sama. Saat ini juga Ria mulai melangkah menjadi anggota KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat UGM. Lalu, saat mengikuti rangkaian acara KIMM (Kelompok Intelektual Muda Mahasiswa) dimana dipertemukan lagi dengan Mas Alfath lagi-lagi membuat Ria termotivasi dan semangat untuk berbuat banyak bagi orang lain, menjadikan orang lain lebih baik sembari memperbaiki diri, tidak diam dan mendiamkan, terus bergerak dan menebar kebaikan agar kejahatan akan menyerah pada kebaikan, agar yang hitam mulai memutih, agar yang bathil akan lelah dan akhirnya lillah karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan, dari situ motivasi untuk menjadi baik dan menjadikan orang lain baik mulai berapi-api, seperti kata Mas Fathur Ketua BEM KM FKG UGM bahwa kita harus hidup yang menghidupkan. Disitulah alasan mengapa Ria memilih BEM terutama bidang PSDM menjadi sarana/wadah dalam mewujudkan harapan-harapannya kedepan dengan menjadikan khususnya staff BEM KM FKG UGM dan umumnya warga FKG UGM menjadi lebih baik dengan program-program kerja yang nantinya akan direalisasikan menjadi lebih fresh dan manfaatnya terasa bagi orang banyak.





Yogyakarta, 01 Oktober 2017
14.56
Pojok Sendowo F
Sebelum berperang dengan UTS



i!

Tuesday, September 19, 2017

Mencoba Menyuarakan

Saat pertama kali saya mendengar orasi beliau di tengah-tengah megahnya masjid kampus, sedikit demi sedikit hati saya tergerak, lalu saya ikuti seminar dan dipertemukan lagi, saat itu hati saya semakin mantap tergerak. Ada hal yang dilupakan, ada pemikiran-pemikiran egois yang ternyata selama ini mengakar dalam diri. Saat itu yang saya inginkan hanya bagaimana mencapai cumlaude, bagaimana caranya exchange, bagaimana bisa mendapat gold di PIMNAS, fokus saja belajar dan melesat setinggi-tingginya.
Tapi ada orang yang menepuk-nepuk pundak saya dan berkata “Ini tidak hanya soal diri sendiri tetapi juga orang lain.” Awalnya saya tidak peduli lalu beliau berorasi sampai hati ini bergerak dengan pasti.
Ternyata ada tanggung jawab yang terkadang kita lupakan, juga ada konsep perguruan tinggi yang juga kita sepelekan yaitu dalam tri dharma perguruan tinggi dimana ada tiga aspek yaitu pendidikan, penelitian, dan yang terakhir adalah pengabdian. Bukankah itu sudah cukup jelas bahwa kuliah tidak hanya mengenai pendidikan ada juga aspek pengabdian yang terkadang hanya sekedar menggugurkan kewajiban tanpa jiwa tanpa rasa.
Saat ketigakalinya saya bertemu beliau, lagi-lagi orasinya membuat hati yang beku jadi menggebu-gebu untuk maju. Beliau berkata “Saya belum pernah lihat FKG turun kejalan membersamai dalam menyuarakan.” Dalam batin saya apa yang harus di suarakan Mas? Kita hanya perlu belajar giat, menghafal anatomi, kebut mengerjakan laporan praktikum yang menumpuk setiap minggunya, dan memberikan pelayanan terbaik setelah lulus nanti. Tetapi ternyata hal terbersit itu salah Mas, banyak sekali yang harus di lakukan FKG untuk turun ke jalan mungkin tidak hanya dalam mengkritisi pemerintah dalam bidang kesehatan tapi juga menyuarakan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan karena ternyata menurut survei, Selain Banten, Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah juga memiliki rasiorendah yaitu sebesar 0,54, 0,67 dan 0,74 per 30.000 penduduk. Selain 3 provinsi tersebut, provinsi lainnya di Pulau Jawa juga memiliki rasio Puskesmas yang rendah. Hal tersebut disebabkan jumlah dan kepadatan populasi yang tinggi. Selain berasal dari sektor pemerintah, pelayanan kesehatan di Pulau Jawa juga didukung oleh sektor swasta, sehingga pemenuhan pelayanan kesehatan tidak hanya berasal dari pelayanan kesehatan dasar. Namun demikian, kondisi seperti ini tetap harus diperhatikan, karena walaupun kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dapat dipenuhi oleh sektor swasta, suatu wilayah tetap membutuhkan entitas yang berperan sebagai penanggungjawab upaya kesehatan masyarakat. (Kementerian Kesehatan RI, 2015). Itu berarti bahwa semua yang mengabdikan dirinya untuk mengeyam pendidikan yang berkaitan dengan tenaga kesehatan Indonesia sangat dibutuhkan agar terciptanya keseimbangan antara tenaga kesehatan Indonesia dan penduduk Indonesia. Maka dari itu saya bertekad untuk belajar lebih keras juga membersamai menyuarakan kebaikan karena semua tenaga kesehatan itu sangat dibutuhkan, tidak hanya dokter karena dokter pun akan pincang jika tidak ada staf-staf yang membersamai untuk bekerja sama untuk menjadikan Indonesia lebih sehat, penduduk sadar akan kesehatan, dan peningkatan kecerdasan penduduk karena asupan gizi kesehatan yang memadai.
Bahkan menurut survei penyakit tentang kesehatan gigi dan mulut bahwa 90% penduduk Indonesia menyatakan menderita sakit gigi dan mulut yang bersifat agresif kumulatif, 10% orang Indonesia yang mengetahui cara menyikat gigi yang benar, 67% penduduk Indonesia yang menyikat gigi seadanya, dan 23% penduduk Indonesia yang jarang bahkan tidak pernah menyikat gigi. Dan hal yang paling buruk dokter gigi di Indonesia sangat minim (Matram, Zaura, 2007). Kondisi yang sangat mengkhawatirkan, membuat saya bertekad untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya, sebanyak-banyaknya dan yang jelas adalah yang bisa di terapkan manfaatnya kepada masyarakat banyak dan menyuarakan ke jalan dalam preventif untuk kesehatan terutama gigi dan mulut. Lalu lagi-lagi saya setuju Mas dengan pemikiran Mas.
Dan baru-baru ini ada kasus yang rasanya menyayat hati setiap kali di dengar, setiap kali di baca di media-media mengenai kasus Debora, menurut pandangan saya dan dari tabayyun yang sudah saya lakukan, ada ketimpangan disini ada tindakan kurang tepat, saat seharunya pasien ditangani dengan cepat dan tepat ada beberapa oknum yang masih saja mementingkan komersiil, padahal fungsi sosialnya sudah jelas dan saya rasa ini hanya salah satu korban diluar sana banyak yang terjadi, bahkan di tanah kelahiran saya. Rasanya sedih dan teriris hati ini, saya tidak tahu bagaimana bisa pendidikan yang seharusnya mencerdaskan malah berkebalikan dan merampas hak-hak orang lain dan di komersiilkan.
Saya juga ingin bersuara setelah sekian lama menyesak di dada, sekolah kedokteran di PTS juga beberapa di PTN yang memasang harga tinggi terhadap mahasiswanya membuat mahasiwa tersebut pada akhirnya berorientasi juga pada uang karena di awal sudah banyak sekali uang yang dikeluarkan sehingga fungsi sosialnya di lupakan, sumpah dokternya di sepelekan. Saya tidak tahu peran apa yang seharusnya saya lakukan hingga saya tidak hanya mengkritisi tetapi juga berkontribusi.
Dari Mahasiswa Baru FKG UGM yang tidak tahu apa-apa dan masih anak kemarin sore yang selalu berusaha menyuarakan kebaikan karena pesan dari Mas Alfath “Serukan terus kebaikan hingga kejahatan akan menyerah pada kebaikan karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”
Yogyakarta, 20 September 2017
00.51 WIB
Di sela-sela mengejar deadline laporan praktikum

Di pojok kamar kost di antara tumpukan buku-buku

Monday, September 18, 2017

Bergerak Lincah Menapaki Jejak Natsir

Jejak-jejak hidup yang di tinggalkan oleh M.Natsir menjadi suatu hal yang sangat di butuhkan sampai saat ini. Sosoknya yang mempunyai intelektual tinggi tetapi tetap sederhana, pemikir kritis dan pejuang dalam islam, penulis hebat tapi tetap merakyat, jujur dan berintegritas, serta konsisten dalam suatu keadaan.
Lalu apakah itu hanya akan menjadi catatan sejarah yang hebat tanpa implementasi bagi intelektual-intelektual muda saat ini? Tentu tidak. Rasanya tidak bijaksana jika sosok hebat Natsir hanya menjadi catatan-catatan sejarah usang yang hanya di baca lalu lupa, yang hanya di lihat persis lalu terkikis, yang hanya di bangga-bangga tapi tidak ada tindakan nyata.
Inilah saatnya bergerak melawan ketidakrelevanan yang ada, berani mengkritisi juga berkontribusi. Natsir yang senantiasa dengan berani menyuarakan pendapatnya hingga suatu ketika pendapat yang di suarakan kepada Soekarno membuat beliau menetap di penjara (Wikipedia, 2012). Peran saat ini adalah turun ke jalan dan suarakan kebenaran, terobos tembok universitas yang terkadang menjadi alasan untuk bersembunyi tanpa mengkritisi. Banyak sekali wadah terutama di dalam kampus yang bisa menjadi jalan kita bersuara, jalan kita menyuarakan kebaikan, dan wadah dimana bersama-sama mengkritisi sebuah kebijakan. Berani menjadi “abnormal” yang tidak hanya belajar sebatas disiplin ilmu yang di emban tapi belajar juga menjadi insan yang peduli juga berbagi, memikirkan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yang ingin keluar dari zona kebodohan serta memiliki tanggung jawab mengeluarkan yang lain dari kebodohan pada akhirnya dalam diri ini mendapat nilai-nilai yang melampaui batas normal karena bisa melawan segala batas diri dan menjadi “abnormal”.
Seperti Natsir sederhana, yang hanya memiliki dua baju lusuh serta jasnya yang bertambal (Wikipedia, 2012) tidak perlu kemewahan meskipun berada di titik tertinggi, sederhana tapi seorang pembela dan bijaksana.
 Natsir juga merupakan seorang penulis, sudah menjadi rahasia umum meskipun memakai nama A. Muchlis (Sati Alimin, 1954) beliau merupakan penulis hebat yang sudah menuliskan berbagai macam, sekitar 45 buku atau monograf dan ratusan artikel yang memuat pandangannya tentang Islam. Ia aktif menulis di majalah-majalah Islam sejak karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929. Karya terawalnya umumnya berbahasa Belanda dan Indonesia, yang banyak membahas tentang pemikiran Islam, budaya, hubungan antara Islam dan politik, dan peran perempuan dalam Islam. (Wikipedia,2012) hal ini menjadi daya tarik tersendiri diluar aktivitas padatnya dalam pemerintahan beliau juga banyak mencurahkan segala pikirannya lewat tulisan, saat mulut tidak sanggup berkata maka biarkan tulisan-tulisan kita yang berbicara karena tulisan tidak seperti kata yang hilang setelah diucapkan, tulisan menjadi salah satu komunikasi yang efektif untuk mencurahkan pikiran dan menjadi hal yang nyata serta konkret karena dalam bentuk tulisan yang bisa di simpan maupun di bukukan. Ini juga merupakan peran penting, tuliskan banyak hal bermanfaat, menulis banyak juga mengenai kebaikan karena saat tulisan itu dibaca kita tidak pernah tahu berapa banyak orang yang ternyata tergerak hatinya, tergugah nuraninya, mulai terbersit dalam pikirannya, mulai melakukan tindakan-tindakan nyata melakukan kebaikan yang ada setelah membaca tulisan kita, itulah kenapa saya masih mengelola blog sampai saat ini agar setiap kali kebaikan yang saya terima bisa dibagikan dan bisa menebarkan segala kebermanfaatan yang ada.
Pencapaian prestasi serta aktivis organisasi di Indonesia bahkan dunia membuat Natsir sangat luar biasa, inilah mengapa saya tergugah untuk terus belajar, belajar, dan belajar mengenai disiplin ilmu yang diemban karena pada akhirnya nanti segala ilmu ini bisa ditebarkan manfaatnya untuk masyarakat luas serta berkecimpung dalam organisasi-organisasi mahasiswa yang menjadi wadah untuk membentuk diri dan meningkatkan kapasitas diri menjadi “abnormal” ; melampaui rata-rata.
Integritas yang diatas segalanya yang di miliki Natsir memberikan suatu kehormatan tersendiri bagi beliau karena bukan menyikapi semua hal dengan bebas tetapi juga memegang teguh integritas, saat bangsanya di jajah oleh penjajah Belanda beliau bertindak tegas melawan penjajah padahal beasiswa pendidikan yang beliau terima adalah dari pemerintah Belanda tapi tidak ada rasa takut dan tetap berpihak pada bangsa yang membesarkannya. Hal ini membuat saya sadar integritas harus di pegang teguh agar segala ujian menggiuran di depan bisa pangkas habis dan tetap konsisten pada kebaikan.
Semua hal positif dalam sosok M.Natsir membukakan kembali mata yang sempat tertidur agar melihat sekeliling sisi bahwa banyak hal yang harus di kritisi, banyak hal yang harus di benahi, dan banyak hal yang patut di apresiasi. Hati yang awalnya beku kini mulai mencair dan tergerak agar kebaikan tetap pada koridornya dan kejahatan harus mencair dan lenyap. Pikiran yang hanya berambisi pada diri sendiri kini mulai terbersit untuk melakukan aksi nyata bahwa di luar sana masih banyak yang harus kita keluarkan dari kebodohan, kita keluarkan dari kemiskinan, dan kita keluarkan dari penindasan. Karena sejatinya ilmu itu selalu memihak pada kebaikan dan kebermanfaatan.
(Gambar ini di ambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir)


Yogyakarta, 19 September 2017

01.43 AM

Tugas DM 1 KAMMI Komisariat UGM 2017
Awalnya hanya menggugurkan kewajiban ternyata bisa terbawa suasana dan mendapat kekaguman.

Thursday, August 31, 2017

Bersembunyi di balik nama besar kampus?

Ketika orang lain baru saja selesai ospek, aku baru selesai praktikum oral histology dan sudah belajar efektif selama kurang lebih tiga minggu. Ketika orang lain bisa takbiran dirumah dan menghirup udara penuh bakaran hasil qurban, aku hanya bisa merancang beberapa project, mengejar deadline, mengetik ini dan menikmati udara malam di jalan Sendowo. Lebay sih padahal Jogja—Cianjur doang wkwkwk karena sebenernya ini hanya memanfaatkan moment melow yang tetiba ingin menulis dan mengutip pesan dari Aa (Cofasku di ospek universitas) “Selamat libur panjang, yang pulang kampung sampaikan salam kepada orang tuanya dari seseorang yang merindukan rumah.”
Mengingat jadwal kedepan terlihat padat, apalagi jika lulus seleksi aku akan terbang ke Muna, Sulawesi untuk menjadi volunteer, ditambah banyak hal yang rasanya ingin di explore, juga observasi di Pare saat libur semester satu, belum lagi belajar SBM, wait,  SBM tuh apa ya? *seketikalupa*. Its okay, mundur sedikit untuk bersiap lalu melaju kencang, pelan-pelan tapi pasti.
Melihat kontingen UGM di PIMNAS dari tahun ke tahun yang selalu memukau meskipun tahun ini di tikung Universitas Brawijaya diposisi pertama. Dengan secepat ini UGM membuat aku jatuh cinta. Lalu, apa kabar Unpad yang menolakku berkali-kali?Apa tahun depan akan ditolak lagi?biarkan waktu yang menjawab *eaa.
Lalu, apakah kita hanya akan menjadi pengagum kampus sendiri dengan segudang prestasi nasional dan internasional? Apakah kita hanya bisa membanggakan kampus kita di depan teman-teman? Apakah kita hanya bisa menyebarkan berita prestasi kampus kita yang menjadi klaster satu bahkan rengking 1 di Indonesia menurut dikti dan rengking di Internasional yang membanggakan? Jangan-jangan kita hanya bersembunyi dibalik nama besar kampus tanpa bisa berperan dan menjadi bagian dari kebanggan itu.
Ini sedikit menggelitik dan menampar aku yang masih anak kemarin sore yang hanya bisa terpukau-pukau menjadi bagian kecil dari warga kampus. Aku yang masih seperti anak hilang mencari tahu kesana kemari agar bisa survive di kampus dan berusaha untuk tidak hanya menjadi penonton tapi pemeran. Teringat kembali salah satu seminar yang aku ikuti yang diadakan oleh BEM KM UGM dan entah aku norak atau apa tapi emang out of my expectation disana banyak materi yang keren banget asli tapi aku gak bisa sampai selesai karena ada kegiatan panahan, salah satu pematerinya adalah Mba Birrul mahasiswa berprestasi UGM tahun 2014, beliau banyak sekali berbagi strategi dan target hidup dan sebenarnya tidak jauh beda dengan tulisan-tulisan ngambisku sebelumnya tentang menulis mimpi di dinding dan lain-lain tapi untuk pembawaan Mba Birrul ini sangat on fire dan membangkitkan semangat, lalu aku ingat sekali CV beliau yang sampai berlembar-lembar yang berisi banyak hal yang inspiratif, dan yang membuat aku terpukau-pukau adalah beliau itu ukhti-ukhti yang berkerudung lebar, itu mematahkan semua anggapan orang bahwa muslimah itu pendiam, kudet, norak, tidak fashionable, dan anggapan jelek lainnya. Maka dari itu aku mengajak semua muslimah untuk aktif, kreatif, inovatif, prestatif dan hal membanggakan lain, ini juga catatan untuk diriku yang masih memilah-milah strategi. Mengutip salah satu kalimat dari Mas Alfath Ketua BEM KM UGM, “Niatkan belajar itu ibadah karena jika belajar adalah ibadah maka prestasi adalah dakwah.” Mantap, aku selalu berapi-api setiap kali Mas Alfath bicara karena setiap bicaranya seperti orasi yang membangkitkan semangat pendengarnya, beliau juga kemarin menjadi salah satu pemateri di seminar.
Untuk yang bernasib sama sepertiku yaitu mahasiswa baru yang merasa seperti anak hilang dan rasanya ingin explore banyak hal, ada tips dari Mba Birrul yang aku ingat untuk memfokuskan diri seperti misalnya di tahun pertama itu fokus dulu ke akademi, tahun kedua ke organisasi, tahun ketiga ke prestasi, dan tahun keempat fokus ke luar negeri.
Jadi, ayo memilih apakah kita hanya akan menjadi penonton dan bersembunyi di balik nama kampus atau berperan dan bagian dari yang membesarkan nama kampus. Its your choise.
“Dan emas akan tetap menjadi emas dimanapun dia berada.” –Indra Sugiarto ngerti maksudnya? Dimanapun Tuhan menempatkamu, kamu akan tetap menjadi emas dan bernilai, jadi jangan tengsin dengan nama kampus karena yang terpenting adalah tidak mengikuti arus yang salah seperti yang kita tahu bahwa sesuatu yang mengikuti arus air itu hanya sampah karena yang bernilai adalah orang yang melawan arus.


(https://www.pinterest.com/pin/392094711285206607/)

Saturday, August 19, 2017

Break Up The Boundaries (Review Seminar Entrepreneurship)

Assalamualaykum warahmatullahi wabarokatuh..
Di sabtu yang penuh berkah ini, aku mempunyai kesempatan datang ke acara yang out of my expectation, acara yang di adakan oleh biro kewirausaan BEM FKG UGM, yaitu acara seminar entrepreneurship. Awalnya aku pikir seminarnya membosankan, bikin ngantuk, dan hal-hal negatif lainnya, tetapi semuanya salah, seminarnya inspiring banget dan pembicaranya masyaa Allah diluar ekspektasi, keren banget. Ada dua pembicara disana yaitu mas Gisneo Pratala dengan segudang prestasinya dalam bidang teknologi, yang aku tangkap dari  sharing-nya mas Neo adalah tentang prestasinya yang luar biasa di bidang teknologi, beliau S1 hukum sekaligus S1 teknik mesin, bingung kan? Me too. Dari beberapa cv yang moderator sampaikan, banyak sekali terobosan-terobosan dibidang teknologi yang beliau buat seperti drops dan lain-lain, semua terobosan tersebut bukan dibuat tanpa ada maksud tapi dibuat karena untuk menyelesaikan masalah yang ada sebelumnya. Banyak sekali ilmu yang didapat dari beliau, seperti dari beberapa sumber yang pernah aku baca bahwa the key is self control, beliau juga bercerita saat masih anak-anak beliau pernah ditanya gurunya tentang cita-cita dan beliau menjawab ingin menjadi penguasa kegelapan, kemudian beranjak ke SD beliau ingin menjadi penguasa dunia, lalu saat beliau sudah dewasa beliau sadar bahwa hal yang terpenting sebelum menguasai semuanya adalah menguasai diri sendiri terlebih dahulu dan itu aku sering menyebutnya self control. Beliau berkata bahwa teknologi itu penting, bukan berarti beralat teknologi tapi juga berpola pikir teknologi. Beliau pun menambahkan bahwa atas semua prestasi-prestasi beliau yang membanggakan langkah pertamanya adalah banyak mempunyai mimpi, dan bermimpi setinggi-tingginya karena dari buku yang pernah aku baca di Rahasia TOP Menulis bahwa sebenarnya otak kanan kita lebih sering merespon di awal dan itu sudah hukum alam, seperti yang kita tahu bahwa otak kanan menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan, berimajinasi sebebas mungkin dan jika kita lihat Thomas Alva Edison yang dulunya mempunyai imajinasi yang tinggi yaitu akan menciptakan sesuatu yang bisa menerangi yang mungkin saat itu banyak sekali orang di zaman itu yang menganggapnya gila karena terlalu berekspektasi tinggi dan pada akhirnya dia bisa mematahkan semua tuduhan orang pada zaman itu sehingga sampai saat ini kita bisa menikmati manfaatnya. Lalu apa maksudnya? Maksudnya adalah jangan pernah takut bermimpi,semustahil apapun. Kenapa kita tidak bermimpi setinggi mungkin kalau kita punya Tuhan Yang Maha Tinggi? Kenapa kita tidak meminta sesuatu yang besar kalau kita punya Tuhan Yang Maha Besar? Dan jangan pernah takut untuk melangkah memulai perjalanan. Lalu pemateri yang kedua adalah drg. Eka Poedja beliau sama kerennya seperti mas Neo, beliau menyampaikan bahwa jiwa pengusaha itu harus ada : efisien, efektif, dan produktif. Beliau mengibaratkan bahwa kuliah di FKG itu 4 tahun ditambah koas 2 tahun totalnya 6 tahun, lalu apa yang kita dapat? Hanya dalam bidang kedokteran gigi saja? Dan itu wasting time banget. Kenapa tidak kita coba melakukan banyak hal yang bermanfaat selagi muda, seperti berwirausaha. Lalu banyak diantara kita yang mengeluhkan mengenai pembagian waktu, “takut mengganggu kuliah” padahal jika kita estimasikan misal kuliah 8 jam, tidur 6 jam, bersantai 5 jam (termasuk nongki, rumpi, chatting, dan lain-lain), tugas 3 jam, organisasi 2 jam, kenapa kita sering mengeluhkan takut mengganggu kuliah padahal ada banyak waktu yang bisa kita cut untuk berwirausaha seperti mengurangi waktu tidur, mengurangi waktu santai, berkiblat pada Sang Teladan kita yaitu Rasulullah yang tidur maksimal 4 jam selebihnya beliau solat malam dan melakukan kegiatan yang positif itu sebabnya Rosulullah sehabis isya kemudian tidur dan menghidupkan sepertiga malam yang terakhir. Lalu dalam menghadapi kegagalan, bukankah Allah telah menjanjikan sebuah keberhasilan di waktu yang sama ketika kita gagal? Apakah buktinya? Buktinya ada di surat al-insyirah ayat 5 “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Allah tidak menjanjikan setelah kesulitan ada kemudahan tapi Allah menjanjikan bersama kesulitan ada kemudahan. Jadi yakinlah bahwa saat kita gagal diwaktu yang sama juga pasti ada kesuksesan. Lalu apakah semua akan mendapat kesuksesan? tentu tidak, hanya orang-orang yang bangkit dari kegagalan yang bisa mendapatkannya karena jika kita hopeless maka akan diam di tempat dan keberhasilan tidak akan datang. Lalu hal yang selanjutnya adalah hilangkan kata tapi dan diganti dengan walaupun misalnya Saya ingin menjadi pengusaha sekarang tapi takut melangkah menjadi Saya ingin menjadi pengusaha sukses sekarang walaupun takut melangkah. Setelah itu beliau menambahkan bahwa yang harus dimiliki adalah finansial, aset, SDM, pengendali jika memang kita tidak mempunyai finansial, aset, dan SDM maka manfaatkan orang lain, libatkan orang lain dalam melangkah dan jadilah pengendali, maka dari itu jaringan dan silaturahmi itu salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Oiya, satu hal yang keren dari drg. Eka Poedja bahwa beliau berzakat maal tahun ini 108 juta, sedangkan zakat maal itu diambil dari 2,5% harta yang dimiliki, jadi kurang lebih penghasilan pertahun adalah 5 Miliar.
Selamat melakukan action.
Lakukan untuk hidup dan menghidupkan (Mas Fatur Ketua BEM M FKG, 2017)

(http://edynamiclearning.com/courses/entrepreneurship-starting-your-business/)



Saturday, August 12, 2017

Moment of Closing Ceremony PPSMB Palapa UGM 2017

WOAAAAAAAAAAAAAAAA... Finally PPSMB Palapa has done. Terharu banget, setelah mengerjakan semua tugas dari H-30 karena tugasnya masyaaAllah banyak banget jon, aku sampe mengorbankan hari liburku, mengurangi liburanku demimu PPSMB. Not bad, semuanya dikemas keren. Dari ospek universitas maupun fakultas, parah sih mantap banget. Cieileh mulai excited neh gue. Alhamdulillah ala kulli hal, semuanya berjalan baik, banyak manfaat yang bisa di ambil dan di terapkan serta dibagikan. Setelah lupa caranya bahagia *lebay*, rasanya lega bisa tertawa lepas sejenak melupakan beban-beban yang akan dihadapi selanjutnya. Hari ini closing ceremony  dan angkatan aku membentuk logo UGM yang katanya dari tahun ke tahun salah satu logo yang sulit dibentuk. Aku ada di formasi paling ujung di tombaknya dan hasilnya gila keren. Lebay sih tapi aku merasa bangga menjadi bagian dari UGM dengan berbagai torehan prestasi, rengking internasional, rengking nasional, ets bukan berarti aku lupa mimpi terbesarku untuk mengemban ilmu di Jawa Barat, harga mati. Hari ini aku speechless jadi langsung saja aku share-kan keseruan PPSMB Palapa UGM 2017.


(Sumpah disini ada gue, pake caping kuning. Disini, aku panas-panasan dan tahu membentu ini jam berapa? dari jam 1, tapi sebenernya teriknya dan panasnya Jogja tidak sebanding dengan panasnya api neraka. Fyi, ini merupakan salah satu cara yang bisa dipilih dalam penghitaman kulit yaitu berjemur di lapangan pancasila di depan graha sabha pramana UGM. Recommended banget.)

(Jangan komentar, mau ngatain gila? bodo amat)

(Wreksodiningrat 10)

(Yang nemenin aku selama PPSMB Universitas)

(Ter-mantap jon)

(Ini kita bersama di fakultas teknik, tepatnya di teknik elektro)

(Ets ada aku, di Maka [Masjid Kampus] UGM)

(Ini PPSMB I-Dentistry bersama kelompok konservasi, dan nama suciku
adalah komposit, di PPSMB I-Dentistry wajib banget panggil orang dengan nama sucinya
dan disana terlihat cofas pake baju merah)




(Gila itu aku gabisa jaim :'] )
Ada video yang gak sempet direkam yaitu pas joget making melody sama baby shark, sumpah itu kocak banget, bisa jadi penghibur

Friday, August 11, 2017

Ada Apa di PPSMB UGM?

Tadi baru saja PPSMB universitas hari kelima, dan hari ini adalah materi tentang pengembangan diri, entah itu tentang menulis berbagai goals, merumuskan alasan kegagalan-kegagalan dimasa lalu bukan untuk ditiru tetapi agar untuk kedepannya lebih berhati-hati, me-manage diri terutama hati agar tetap pada koridor yang sewajarnya dan masih banyak yang lainnya. Trainer-nya bernama Wida kepanjangannya aku lupa beliau adalah salah satu lulusan UGM di fakultas psikologi dan menurut informasi beliau sedang menempuh S2. Dengan pengalaman beliau yang luar biasa mengenai berbagai mimpi lalu dilatarbelakangi dengan ilmu psikologi yang memang sangat cocok dalam hal penyampaian, tanggapan saat bercerita, dan tadi itu semacam konsultasi gratis. Menarik sekali pembahasannya, cara beliau meraih mimpi-mimpinya. Yang aku ingat beliau suka menulis mimpinya di dinding kamar, bahkan untuk target menikah pun beliau tulis, dan dari cerita pengalaman beliau, tidak sedikit mimpi yang beliau tempel didinding itu tercapai. Beliau bilang “Kalau kita berparadigma yang misalnya positif maka entah dengan cara apapun alam itu akan menjawab.” Lalu beliau juga menceritakan film “The Secret” dimana film tersebut menceritakan tentang psikologi, jika penasaran silahkan ditonton. Dan hal yang paling aku ingat adalah saat beliau bertanya “Apakah disini ada yang ingin mengulang ditahun depan?” dan dari belasan siswa dikelasku, hanya aku yang cunghand, dan sudah kuduga, aku pasti ditanya-tanya. Beliau sangat menarik sekali dalam penyampaian, mungkin karena ditambah dukungan disiplin ilmu yang beliau emban, tetapi sedikit menyayat hati. Entah hati ini yang sensitif jika bicara kegagalan atau memang maksudnya menyadarkan, tapi yang jelas adalah banyak ilmu yang aku dapatkan hari ini, meskipun ada beberapa yang tidak bisa diterima, seperti berbicara takdir seakan-akan aku sudah di gariskan di jurusan ini, tapi sesungguhnya aku tidak ingin dulu membicarakan takdir karena aku yakin ada kesalahan fatal yang aku lalukan ditahun ini mungkin tidak disadari yang membuat aku gagal untuk mewujudkan impianku masuk di kedokteran Unpad. Back to Mba Wida, beliau bilang menceritakan mimpi kepada banyak orang itu perlu, meskipun bukan kewajiban, karena dengan bercerita orang-orang tahu mimpi kita dan bisa jadi salah satu orang yang tahu mimpi kita bisa menjadi jalan lebih cepat tercapainya mimpi, selain itu merumuskan mimpi yang lebih spesifik adalah hal yang penting contoh “Saya ingin ipk tinggi.” Itu belum spesifik, yang spesifik adalah “Saya akan mendapat ipk 3,75”, selain mimpi yang spesifik juga dibarengi strategi yang mantap dan action yang sigap, karena percuma jika kita menuliskan banyak mimpi di dinding tanpa kita lakukan action maka selamanya mimpi itu hanya menjadi angan-angan yang tidak bisa dicapai. Bahkan menyinggung buku yang pernah saya baca karya Dewi Nur Aisyah berjudul  Awe-Inspiring Me itu worth it banget wajib baca asli, by the way aku gak digaji untuk mempromosikannya ya tapi its okay itu recommended untuk kalian yang pernah gagal, ingin bangkit, ingin tahu strategi, dan lain-lain. Tapi aku selalu inget apa yang dijawab oleh Mba Wida setiap kali beberapa temanku tanya, beliau sering bilang “Semuanya bisa dijawab oleh diri kamu sendiri karena sebenarnya yang paling mengenal diri kamu adalah kamu sendiri. Bahkan untuk strategi belajar itu bisa kamu jawab sendiri, sering-sering berkomunikasi intensif dengan dirimu sendiri.” Bahkan beliau bilang di psikologi ada moment dimana kita berterimakasih kepada jantung, berterimakasih kepada pankreas, intinya adalah mengajak berbicara atau menghargai kerja keas mereka. Aku jadi ingat saat liqo diceritakan ada seorang bapak yang akan dioperasi entah bagian mana di organ tubuhnya, lalu sebelum operasi beliau mengajak orgna tersebut berbicara, kurang lebih seperti ini “Organ, kita diciptakan oleh Allah, kita adalah kesatuan yang saling menguatkan, baik-baik ya setelah operasi nanti, jika kamu baik-baik maka semuanya juga akan baik-baik dan kita semakin bisa memaksimalkan ibadah kita kepada Allah, jadi ayo sama-sama berjuang.” Dan setelah itu operasi berjalan dengan lancar tanpa ada cacad sedikitpun. Lalu teringat kembali setiap dimasa-masa berjuang meraih mimpi saat di bimbel di Jakarta, setiap kali tidur aku selalu mengajak ngobrol semua yang ada ditubuhku, sejujurnya sekaligus selalu minta maaf karena hak tubuhku untuk istirahat sangat dikirangi, kadang tidur jam dua bangun jam empat, bahkan mengonsumsi kopi yang berlebihan agar bisa menahan kantuk, lalu aku bilang untuk tubuhku agar tetep kuat dan sehat, menjalani semuany dengan lancar karena saat itu jauh dari orang tua, sakit pun gak akan ada yang ngurus, dan benar, tidak ada penyakit yang datang, semua tubuhku, antibodiku sudah kuat dan tahan. Luar biasa, mungkin ini sedikit freak tapi benar adanya, seperti kita yang ingin selalu mendapat reward, organ tubuh kita pun berhak untuk diapresiasi, berhak untuk disegarkan, bahkan berhak untuk kita sedekahi lalu dengan cara apa kita bersedekah kepada semua organ, nadi, dan lain-lain dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah dengan shalat duha.


Semoga bermanfaat.


(Fyi, ini teman-temanku di PPSMB universitas, mereka ada yang dari Teknik, Mipa, Geo, Sekolah Vokasi, Manajemen, Ekonomi, dan lain-lain. You make my day silly guys lol. )

Thursday, August 10, 2017

Pantai Parangtritis

Assalamualaykum..

Kali ini aku ingin berbagi cerita tentang my second traveling in Jogja, dan seperti biasa sasaran utama adalah pantai. Dari informasi yang aku dapatkan di salah satu website backpacker pantai yang terkenal di Jogja adalah Parangtritis. Ada banyak belahan bumi lain yang belum kita tafakuri, ada banyak petak tanah karya Allah yang belum kita singgahi entah itu untuk memberi manfaat di tempat itu atau bersyukur atas karya Allah yang sangat indah. Untuk menempuh Pantai Parangtritis dari daerah Sendowo yaitu kawasan dekat FKG UGM bisa memakai kendaraan umum yaitu memakai transJogja, bus ini bisa membawa kita mengelilingi indahnya kota Jogja, dari transJogja tujuan awal kita adalah Terminal Giwangan, kenapa?karena terminal tersebut adalah kawasan yang katanya lebih dekat, dari Terminal Giwangan naik sejenis metromini dan saat itu aku membayar dua puluh ribu, padahal dari informasi yang saya dapatkan untuk membayar metromini arah parangtritis adalah enam ribu, entah sudah naik atau memang aku dikelabui wallahu alam :’) dan setelah aku merasakan itu teramat sangat jauh dari terminal, sekitar kurang lebih 3 jam untuk sampai Pantai Parangtritis. Tapi, wait for a minutes, semua rasa tepos dan menyesal karena perjalanan yang cukup melelahkan aku merasa terbayarkan dengan keindahan pantai yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Terlihat masih terawat, tidak banyak yang membuang sampah sembarangan, ombaknya lumayan besar, anginnya kenceng, dan saat itu aku sangat bersyukur atas karya indah yang udah Tuhan ciptakan. Disini aku akan share beberapa foto yang sebenarnya tidak cukup untuk menjelaskan keindahan paintai ini. Tapi sayang sekali keindahan pasir dirusak dengan adanya andong yang berjalan kesana kemari, lalu oleh sejenis motor cross.
Dan aku sangat menyadari banyak sekali bagian bumi lain, belahan bumi lain yang belum aku kunjungi, belum aku tafakuri, belum aku tadaburi, dan belum aku syukuri. Jadi hal terpenting sebelum jangan lupa bahagia adalah jangan lupa bersyukur.
Dan hijab bukan penghalang aktivitasmu ya ukhti, aku aja liat yang bercadar main-main di pantai ini kemarin its okay tetep percaya diri dengan identitasmu sebagai muslimah. 


(Taken by: Mama)


(Sayang sekali keindahan pasirnya rusak :(    )


Monday, June 5, 2017

Biarkan Allah yang Menghentikan

Mengutip cerita hikmah yang aku dapatkan dari kak Hani (salah satu pengurus LDK Syahid Uin Jakarta) saat kegiatan 3 hari kemarin.
Disuatu pesantren ada 3 santri yang selalu mengeluhkan apa yang Allah berikan kepada mereka, padahal mereka merasa segala usaha yang mereka lakukan sudah maksimal tapi hasilnya begitu-begitu saja. Hingga suatu ketika sang ustad yang mendengarkan keluhan mereka menyuruh ketiga santrinya itu berlari mengitari lapangan tiga puluh kali dengan terheran-heran santripun berlari sesuai perintah sang ustad dan sang ustad pun ikut berlari bersama mereka. Santri satu dia sudah berhenti saat putaran ketiga, lalu santri kedua saat putaran kesepuluh berhenti karena merasa capek yang luar biasa, lalu santri ketiga putaran kedua puluh sudah menyerah karena tak kuat lagi untuk berlari sampai pada akhirnya hanya sang ustad yang bertahan, terus menerus berlari meskipun tergopoh-gopoh, meskipun seperti sudah tak bisa menahan lelahnya berlari lagi. Lalu ketiga santripun bertanya-tanya kenapa terus memaksakan padahal sudah kelihatan capek sekali dan sudah tergopoh-gopoh. Dan akhirnya sang ustad pun pingsan karena sudah kelewat lelah. Singkat cerita, sang ustad pun bangun dari pingsan lalu sang santri pun bertanya
“Ya Ustad, kenapa masih terus berlari tadi? Padahal sudah tergopoh-gopoh?”
“Iya ustad, kenapa tidak istirahat padahal sudah terlihat capek sekali tadi.”
Sang ustad pun menjawab.
“Nah, itulah perjuangan. Jangan pernah berhenti ketika kita lelah, berhentilah saat kita sudah selesai. Walaupun pada akhirnya belum selesai biarkan Allah yang menghentikan. Jangan kita yang menghentikan sendiri sekehendak kita. Begitulah dengan usaha yang kalian anggap maksimal tapi mungkin kalian sering berhenti karena lelah dan itu namanya bukan usaha yang maksimal.”
Dari beberapa hikmah yang aku dapatkan di kegiatan kemarin, cerita hikmah ini yang paling aku ingat. Dan akupun menyimpulkan bahwa terkadang kita sering sekali protes terhadap apa yang Allah berikan, padahal itupun Allah liat dari usaha kita. Sekali pun memang usaha itu sama sekali tidak bisa mengubah takdir kita tapi Allah lihat kesungguhan kita dalam berikhtiar dan Allah lihat apakah kita layak diberikan sesuatu yang kita minta tapi dengan ikhtiar yang seadanya?

Terkadang sangat perlu memantaskan diri atas apa yang kita minta dengan segala ikhtiar yang kita lakukan.

Monday, May 29, 2017

Terlambat Bersyukur

Masa-masa sulit selama kurang lebih setahun ini banyak sekali hal yang ternyata terlambat disyukuri. Sampai pada akhirnya aku hijrah dari kotaku tercinta (baca: Cianjur) ke ibukota. Dan sampai disana banyak kekagetan yang gak terduga, seperti lingkungan, teman-teman, atmosfer udara, dan lain-lain.
“Sumpah ini salah, aku salah dalam membaca petunjuk setelah shalat istikharah”
“Kenapa gak di Bandung aja, banyak sodara, temen-temen dan masih daerah kekuasaan karena masih Jawa Barat”
“Yaelah gabisa bertingkah.”
“Di Bandung kan banyak yang ngambis karena mereka pasti targetnya ITB.”
“Engga engga, pokonya pertengahan harus mutasi ke Bandung.”
“Tapi aku gak mau mainstream, aku butuh lingkungan baru dan tantangan baru.”
“Oke, jalani dulu.”
Beberapa celotehan sendiri.
Dan hari pertama semua berjalan baik, aku mulai beradaptasi dengan teman-teman dan beradaptasi dengan terik matahari dikota ini.
Beberapa bulan setelah semuanya akrab, aku mulai mengenal masing-masing kepribadian teman-temanku dan disinilah syukurku ditingkatkan.
Saat kegiatan belajar seperti biasa dilakukan dan selesai, kebanyakan teman-temanku langsung cabut alias pulang kerumah, disaat aku yang sedang ngambis-ngambisnya, teman laki-lakiku sebut saja Fulan pamit.
“Eh Rai, gua mau balik ya!” sambil menyodorkan tangannya
“Oh iya, hati-hati.” tanpa melihat dan masih fokus dengan buku.
“Gua mau salam nih!” ketusnya.
“Oke, sorry bukan mahram hehe..”
*menghela nafas* “Yaelah, gua juga gak nafsu kali sama lu!” ujarnya.
Deg, jawaban yang frontal, dan aku menatap dia sinis,
“Oke jangan di frontalin dan jangan banyak tingkah.” Ujarku dalam hati
Dari sini aku merasa selama aku ada dilingkungan baik, aku sama sekali kurang dalam bersyukur. Punya teman-teman yang mengingatkan pada Allah, mengingatkan kebaikan, kadang tak terlintas untuk bersyukur padahal itu adalah nikmat terbesar yang sudah Allah berikan untukku, berhijrah dari masa jahiliyah ke masa yang lebih baik, dan mungkin ini terguran dari rasa syukurku yang kurang. Padahal selama beberapa tahun ini aku ada dilingkaran ukhuwah RISMA (baca: ROHIS), HIROCI, dan Zahratunnida. Betapapun Allah punya banyak cara untuk menyadarkan hambanya bersyukur :’)
Beberapa bulan disini, aku mendapatkan lingkaran baru. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya aku mutasi liqo (baca: mentoring). Dan aku ditempatkan di AS (Akhwatusshaliha), dan masyaa Allah kakak mentornya alumni UI dan kebanyakan teman-teman dilingkaran ini adalah kakak-kakak yang mungkin satu atau dua tahun diatasku dan rata-rata mereka sudah kuliah. Dan untuk kali ini jangan kurang dalam bersyukur dan selalu sempatkan buat liqo. Disini aku rehat dari atmosfer persaingan dunia, istirahat dari mumetnya belajar, istirahat dari jenuhnya lingkungan Inten. Dan betapa Allah maha baik sehingga menempatkan aku di lingkaran ini, ketika ingin tutup telinga karena hanya nasihat dunia yang bisa didengar, disini nasihat akhirat lebih ditekankan. Karena mungkin jika tidak dilingkungan ini, tak akan ada charger ruhiyah. Dan jika aku tidak ada di kota terik ini mungkin penyesalan karena tidak bersyukur itu tak ada. Alhamdulillah ala kulli hal.

Terkadang banyak hal yang terlambat untuk disyukuri, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan ingatlah bahwa Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan kita. Jadi, jangan lupa bersyukur! J